╔═════ ???????? ═════╗
Tanya Jawab
Rebo Wekasan
╚═════ ???????? ═════╝
Bersama Gus Ahmad Rifai
1. Apa itu rebo wekasan ?
Jawab :
Rebo adalah bahasa jawa yang maknanya merujuk pada : Hari Rabu
Sedangkan wekasan -di beberapa daerah disebut dengan istilah ‘pungkasan’- adalah bahasa jawa yang maknanya merujuk pada : yang paling akhir
Sehingga Rebo Wekasan maknanya adalah Hari Rabu yang terakhir.
Menurut kebiasaan masyarakat, istilah ini dinisbahkan pada Hari Rabu Terakhir pada Bulan Safar (dalam Kalender Penanggalan Islam) atau Bulan Sapar (dalam Kalender Penanggalan Jawa)
2. Darimana sumber adanya anggapan bahwa ada banyak bala’ (musibah) turun pada Hari Rabu terakhir Bulan Safar ?
Jawab :
Anggapan tersebut bermula dari sebuah hadits Rasulullah SAW berikut :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: آخِرُ أَرْبِعَاءَ فِي الشَّهْرِ يَوْمُ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ. رواه وكيع في الغرر، وابن مردويه في التفسير، والخطيب البغدادي. (الإمام الحافظ جلال الدين السيوطي، الجامع الصغير في أحاديث البشير النذير، ١/٤، والحافظ أحمد بن الصديق الغماري، المداوي لعلل الجامع الصغير وشرحي المناوي، ١/۲٣).
Dari Ibn Abbas RA, Nabi SAW bersabda, “Rabu terakhir dalam sebulan adalah hari terjadinya sial terus.” HR. Waki’ dalam al-Ghurar, Ibn Mardawaih dalam al-Tafsir dan al-Khathib al-Baghdadi. (Al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi, al-Jami’ al-Shaghir, juz 1, hal. 4, dan al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari, al-Mudawi li-‘Ilal al-Jami’ al-Shaghir wa Syarhai al-Munawi, juz 1, hal. 23).
3. Apakah ada keterangan serupa dalam Kitab Para Ulama’ ?
Jawab :
Pada beberapa kitab ulama’ ditemukan beberapa keterangan sebagai berikut :
a. Kitab Fathul Malikil Majid (NAMA KITAB) sering dikenal dengan nama Kitab Al Mukarrobat karangan Imam Ad Dairobi, disebutkan :
ذَكَرَ بَعْضُ الْعَارِفِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْكَشْفِ وَالتَّمْكِيْنِ أَنَّهُ يَنْزِلُ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ ثَلَاثُمِائَةِ أَلْفِ بَلِيَّةٍ وَعِشْرُوْنَ أَلْفًا مِنَ الْبَلِيَّاتِ، وَكُلُّ ذَلِكَ فِيْ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ الْأَخِيْرِ مِنْ صَفَرَ؛ فَيَكُوْنُ ذَلِكَ الْيَوْمُ أَصْعَبَ أَيَّامِ السَّنَةِ؛
Sebagian orang yang ma’rifat dari ahli kasyaf dan tamkin menyebutkan: setiap tahun, turun 320.000 cobaan. Semuanya itu pada hari Rabu akhir bulan Shafar, maka pada hari itu menjadi sulit-sulitnya hari di tahun tersebut
b. Kitab Kanzun Najâh was Surûr, karya as Syeikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds, murid as Syeikh Ahmad Zaini Dahlan, disebutkan :
اعلم…أن مجموع الذي نقل من كلام الصالحين كما يعلم مما سيأتي أنه ينزل في آخر أربعاء من صفر بلاء عظيم، وأن البلاء الذي يفرِّق في سائر السنة كله ينزل في ذلك اليوم، فمن أراد السلامة والحفظ من ذلك فليدع أول يوم من صفر، وكذا في آخر أربعاء منه بهذا الدعاء؛ فمن دعا به دفع الله سبحانه وتعالى عنه شرَّ ذلك البلاء. هكذا وجدته بخط بعض الصالحين
Ketahuilah bahwa kumpulan faedah yang dinukil dari keterangan orang shaleh – sebagaimana nanti akan diketahui – bahwa pada hari rabu terakhir bulan safar akan turun bencana besar. Bencana inilah yang akan tersebar di sepanjang tahun itu. Semuanya turun pada hari itu. Siapa yang ingin selamat dan dijaga dari bencana itu, maka berdoalah di tanggal 1 safar, demikian pula di hari rabu terakhir dengan doa yang sama. Siapa yang berdoa dengan kalimat itu, maka Allah akan menyelamatkannya dari keburukan musibah tersebut. Inilah yang aku temukan dari tulisan orang-orang shaleh.
فَمَنْ صَلَّى فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ مِنْهَا بَعْدَ الْفَاتِحَةِ سُوْرَةَ (إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ) سَبْعَ عَشْرَةَ مَرَّةً وَالْإِخْلَاصِ خَمْسَ مَرَّاتٍ، وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ مَرَّةً مَرَّةً، وَيَدْعُوْ بَعْدَ السَّلَامِ بِهَذَا الدُّعَاءِ حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى بِكَرَمِهِ مِنْ جَمِيْعِ الْبَلَايَا الَّتِيْ تَنْزِلُ فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ، وَلَمْ تَحُمْ حَوْلَهُ بَلِيَّةٌ مِنْ تِلْكَ الْبَلَايَا إِلَى تَمَامِ السَّنَةِ
Barangsiapa yang sholat di hari itu sebanyak 4 roka’at, kemudian pada tiap roka’atnya setelah Surat Al Fatihah membaca Surat Al Kautsar 17x, Al Ikhlas 5x, Al Falaq 1x, dan An Nas 1x, kemudian setelah salam ia membaca doa ini, maka Allah ta’âlâ akan menjaganya dari seluruh bala’ yang turun pada hari itu. Ia tidak terkena bala’ hingga akhir tahun. (Kanzun Najâh was Surûr hal. 49)
Adapun do’a yang dimaksud adalah sebagai berikut :
بِسْــمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ،
اَللّـٰـهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوٰى ، وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ ، يَا عَزِيْزُ ، يَا مَنْ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ ، اِكْفِـنِيْ مِنْ شَرِّ جَمِيْعِ خَلْقِكَ ، يَا مُحْسِنُ ، يَا مُجَمِّلُ ، يَا مُتَفَضِّلُ ، يَا مُنْعِمُ ، يَا مُتَكَرِّمُ، يَا مَنْ لآَ إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ ، اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّـٰـهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِـيْهِ وَأُمِّـهِ وَبَنِيْـهِ اِكْفِـنِيْ شَرَّ هٰذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ . يَا كَافِيْ (فَسَـيَكْفِيْـكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ) ، وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آٰلِـهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Masih dalam Kitab yang sama, terdapat anjuran untuk menuliskan rajah dibawah ini di kertas dengan niat untuk penjagaan dari bala’ :
=====
سلام قولا من رب رحيم. سلام على نوح في العالمين. سلام على إبراهيم. سلام على موسى وهارون. سلام على إلياسين. سلام عليكم طبتم فادخلوها خالدين. من كل أمر سلام هي حتى مطلع الفجر
=====
وَهَذِهِ الرِّوَايَةُ هِيَ الَّتِيْ كَانَ يَفْعَلُهَا شَيْخُنَا رَضيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ وَهِيَ أَحْسَنُ؛ لِعُمُوْمِ النَّفْعِ بِهَا لِلصِّبْيَانِ وَالنِّسْوَانِ وَالْعَبِيْدِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ مِمَّنْ لَا يَقْدِرُ عَلَى فِعْلِ شَيْءٍ مِمَّا تَقَدَّمَ.
Penulisan rajah tersebut didapatkan oleh Penyusun Kitab dari guru beliau dan dapat diambil manfaatnya untuk penjagaan kepada anak-anak, kaum wanita, dan selainnya yang memiliki udzur untuk melaksanakan amalan-amalan yang lain.
4. Apakah boleh bagi kita untuk meyakini hari-hari tertentu sebagai hari sial, hari celaka, hari musibah, dsb ?
Jawab :
Tidak boleh bagi kita untuk meyakini hari-hari tertentu sebagai hari sial. Hal ini sesuai dengan dawuh Baginda Nabi Muhammad SAW sebagai berikut :
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ. رواه البخاري ومسلم.
“Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada penyakit menular. Tidak ada kepercayaan datangnya sial dari bulan Shafar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati, rohnya menjadi burung yang terbang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hadits ini memiliki asbabul wurud sebagai berikut :
أَنَّ الْمُرَادَ أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوْا يَسْتَشْئِمُوْنَ بِصَفَر وَيَقُوْلُوْنَ: إِنَّهُ شَهْرٌ مَشْئُوْمٌ، فَأَبْطَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ذَلِكَ، وَهَذَا حَكَاهُ أَبُوْ دَاوُودَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ رَاشِدٍ الْمَكْحُوْلِيِّ عَمَّنْ سَمِعَهُ يَقُوْلُ ذَلِكَ، وَلَعَلَّ هَذَا الْقَوْلَ أَشْبَهُ اْلأَقْوَالِ، وَ كَثِيْرٌ مِنَ الْجُهَّالِ يَتَشَاءَمُ بِصَفَر، وَ رُبَّمَا يَنْهَى عَنِ السَّفَرِ فِيْهِ، وَ التَّشَاؤُمُ بِصَفَر هُوَ مِنْ جِنْسِ الطِّيَرَةِ الْمَنْهِيِّ عَنْهَا. (الإمام الحافظ الحجة زين الدين ابن رجب الحنبلي، لطائف المعارف، ص/١٤٨).
Yang dimaksud (dari hadits ini) adalah bahwa kaum Jahiliyyah menganggap Bulan Safar sebagai bulan sial, mereka mengatakan Bulan Safar adalah bulan sial. Maka anggapan ini dibatalkan dan dibantah oleh Rasulullah SAW. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Abu Dawud, dari Muhammad bin bin Rosyid Al Mak-huli dari orang yang mendengarnya berkata demikian. Dan ucapan yang semacam ini selaras dengan ucapan orang-orang lain. Dan kebanyakan dari orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan dalam agama (kaum jahiliyah) menganggap sial bulan safar, terkadang mereka juga melarang bepergian pada bulan itu (karena takut tertimpa sial). Dan anggapan sial pada bulan safar ini termasuk At Thiyaroh (ramalan / prediksi yang tidak berdasar) yang dilarang oleh Syari’at. (Al Imâm Al Hâfidz Al Hujjah Zainuddin Ibn Rojab Al Hambali, Lathôiful Ma’ârif hal. 148)
5. Lalu, bagaimana dengan Hadits Rasulullâh SAW dibagian paling atas dari tulisan ini, yang mengatakan bahwa Rabu Terakhir adalah Hari Sial, bagaimana pula dengan redaksi pada kitab Al Mujarrobat mengenai 320.000 bala’ ?
Jawab :
Dalam meyakini sesuatu yang bersifat ghaib yang dijadikan keyakinan mendasar serta menentukan hukum, dalam kerangka Syariat Islam, diharuskan berdasarkan pada dalil Al Qur’an, Hadits Shohih, dan Hadits Hasan. Dalam semua literatur Ilmu Mustholah Hadits, dijelaskan oleh para Ulama’ Hadits Dhoif diterima hanya dalam pembahasan fadhilah amal.
Mengenai hal ini, Al Muhaddits As Sayyid Alwi bin Abbas Al Maliki (Ayahanda Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki) menegaskan :
والصحيح والحسن مقبولان، والضعيف مردود فلا يحتج به الا في فضائل الأعمال بشرط ألا يشتد ضعفه وأن يدخل تحت أصل شرعي وأن لا يعتقد عند العمل به تبوته بل يراد بالعمل به الإحتياط فى الدين.
Adapun hadits shohih dan hadits hasan, keduanya adalah hadits yang maqbul (diterima untuk dijadikan dalil). Adapun hadits dhoif termasuk hadits yang mardud (tertolak). Maka tidak diperkenankan berhujjah dengan hadits dhoif kecuali dalam urusan Fadhoilul A’mâl dengan syarat, (1) tidak terlalu dhoif, (2) hadits dhoif berada di bawah ketentuan pokok dalam syari’at, (3) tidak meyakini sesuatu yang terkandung dalam hadits dhoif ketika mengamalkannya, tetapi harus dengan tujuan untuk berhati-hati dalam agama.
(Al Muhaddits As Sayyid Alwi bin Abbas Al Maliki dalam Ibânah al Ahkâm syarh Bulûgh al Marôm hal 14)
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Hafidz Jalâluddin As Suyuthi sebagaimana tersebut di awal tulisan ini memiliki kedudukan dhoif dan beberapa ulama’ menyatakan sangat dhoif. Sehingga tidak dapat dijadikan sandaran bagi kita untuk meyakini Hari Rabu terakhir pada Bulan Safar adalah hari sial. Terlebih terdapat Hadits Shohih Bukhori Muslim yang menegaskan Sabda Rasulullah SAW yang menolak anggapan kaum jahiliyah yang mengatakan hari tersebut adalah hari sial.
Begitu juga dengan ilham yang diperoleh oleh para ulama’. Hal tersebut tidak dapat merubah hukum syar’i yang sifatnya berupa keyakinan terhadap hal ghoib maupun kewajiban-kewajiban syar’i lainnya.
Terlebih baik dalam Kitab Al Mujarrobat maupun Kitab Kanzun Najâh was Surûr tidak disebutkan siapa ulama’ yang dimaksud yang mengatakan hal tersebut. Sehingga keyakinan semacam itu tidak boleh diyakini.
6. Apakah Muktamar Para Ulama’ sudah pernah membahas hal ini ?
Jawab :
Dalam Kitab Ahkâmul Fuqohâ’ fî Muqorrorôt Mu’tamarôt Nahdlotil Ulamâ’, sebagai kumpulan dari Keputusan Muktamar, Munas, dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama’ sejak berdirinya (Tahun 1926) hingga 2010 disebutkan sebagai berikut :
“Bolehkah berkeyakinan terhadap hari naas, misalnya hari ketiga atau keempat pada tiap-tiap bulan, sebagaimana tercantum dalam kitab Lathoiful Akbar ?”
“Muktamar memilih pendapat yang tidak membolehkan”
(Ahkâmul Fuqohâ’ hal. 60, Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-3 di Surabaya pada 28 September 1928 M)
Dalam dalilnya, Muktamar menjelaskan sumbernya sebagai berikut :
مَنْ يَسْأَلُ عَنِ النَّحْسِ وَمَا بَعْدَهُ لَا يُجَابُ إِلا بِالْإِعْرَاضِ عَنْهُ وَتَسْفِيهِ مَا فَعَلَهُ وَيُبَيِّنُ قُبْحَهُ وَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ سُنَّةِ الْيَهُودِ لا مِنْ هَدْيِ الْمُسْلِمِينَ الْمُتَوَكَّلِيْنَ عَلَى خَالِقِهِمْ وَبَارِئِهِمْ الَّذِينَ لا يَحْسَبُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. وَمَا يُنْقَلُ مِنَ الْأَيَّامِ الْمَنْقُوْطَةِ وَنَحْوِهَا عَنْ عَلِيّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ بَاطِلٌ كَذِبُ لَا أَصْلَ لَهُ فَلْيَحْذَرُ مِنْ ذَلِكَ. إهـ
“Barangsiapa yang bertanya tentang hari sial dan sesudahnya maka tidak perlu dijawab, melainkan dengan berpaling, menganggap bodoh tindakannya dan menjelaskan keburukannya. Semua itu merupakan kebiasaan orang Yahudi dan bukan petunjuk orang Islam yang bertawakal kepada Penciptanya yang tidak pernah menggunakan hisab dan bertawakal terhadap Tuhannya serta. Dan hari-hari nestapa yang dinukil dari sahabat Ali -karamallahu wajhah- adalah batil, dusta dan tidak berdasar, maka berhati-hatilah dari semuanya.” (Ibn Hajar al-Haitami, dalam al-Fatawa al-Haditsiyah hal. 28.)
7. Kalau begitu, berarti meyakini hari tertentu adalah hari sial adalah keharaman. Lalu bagaimana dengan mengamalkan amalan yang dianjurkan oleh sebagian Ulama’ tersebut ?
Betul, yang ditekankan disini adalah dalam memiliki keyakinan hari tertentu sebagai hari sial. Keyakinan ini tidak sepantasnya dimiliki oleh Umat Islam, terlebih Ahlussunnah wal Jama’ah.
Adapun dalam mengamalkan amalan yang dianjurkan tersebut, selama amalan tersebut tidak bertentangan dengan dalil dan ketentuan pokok dalam syariat, maka boleh untuk diamalkan.
Terlebih jika niatnya untuk menolak bala’ secara umum, maka hal itu tetap dianjurkan. Sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW :
فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُو اللهَ وَكَبِّرُوْا وَصَلُّوْا وَتَصَدَّقُوْا
“Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah, bertakbir, salat, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Mengenai hadits diatas, Imam Ibnu Daqiq Al-‘Id berkata,
وفي الحديث دليل على استحباب الصدقة عند المخاوف لاستدفاع البلاء المحذور
Hadis ini sebagai dalil atas dianjurkannya untuk bersedekah ketika suasana menakutkan untuk menolak bala yang dikhawatirkan.
Jika kita lihat berbagai amalan yang dianjurkan untuk dilaksanakan, maka berikut beberapa poin yang penting untuk diperhatikan :
a. Sholat yang dilaksanakan tersebut tidak sah jika diniatkan sebagai Sholat Rebo Wekasan. Karena jenis sholat Rebo Wekasan merupakan jenis sholat yang tidak disyariatkan.
Hal ini juga dapat kita temukan
Dalam Kitab Ahkâmul Fuqohâ’ fî Muqorrorôt Mu’tamarôt Nahdlotil Ulamâ’, sebagai berikut :
“Di dalam kitab Khozinah al Asror ada keterangan tentang sholat Birrul Walidain, sholat Waj’uladros dan lain sebagainya. Apakah sholat-sholat tersebut baik untuk diamalkan dan apakah dasarnya kuat ? Lagipula apakah kitab tersebut diantara kitab-kitab yang mu’tamad atau tidak ?”
“Sholat Birrul Walidain, sholat Waj’uladros, Liqodhoiddain dan lain sebagainya, adalah tidak sah dan hukumnya haram.”
(Ahkâmul Fuqohâ’ hal. 350, Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-25 di Surabaya pada 20-25 Desember 1971 M)
Dalam dalilnya, Muktamar menjelaskan sumbernya sebagai berikut :
وَلَا تَصِحُ الصَّلَوَاتُ بِتِلْكَ النَّيَّاتِ الَّتِي اسْتَحْسَنَهَا الصُّوْفِيَةُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَرِدَ لَهَا أَصْلُ في السُّنَّةِ. نَعَمْ إِنْ أَطْلَقَ الصَّلاَةَ ثُمَّ دَعَا بَعْدَهَا بِمَا يَتَضَمَّنُ نَحْوَ اسْتِعَاذَةٍ وَاسْتِخَارَةٍ مُطْلَقَةٍ لَمْ يَكُنْ بِذَلِكَ بَأْسٌ
Tidak sah shalat dengan niat-niat yang dianggap baik oleh kalangan sufi tanpa adanya dasar hadis sama sekali. Namun jika memutlakkan niat salat kemudian berdoa sesudahnya dengan doa yang berisikan permohonan perlindungan atau istikharah (meminta petunjuk Allah Swt. untuk dipilihkan yang baik) secara mutlak, maka hal tersebut diperbolehkan.
Sehingga solusinya jika ingin melaksanakan sholat tersebut adalah dengan diniatkan sholat sunnah mutlak atau diniatkan sholat sunnah hajat. (Ibn Hajar al-Haitami dalam Tuhfah al-Muhtaj pada Hasyiyata al-Syirwani wa al ‘Ubadi hal 238)
b. Sholat yang dilaksanakan sebanyak 4 roka’at tersebut harus dilaksanakan dengan cara 2 roka’at salam-2 roka’at salam. Sesuai dengan sabda Baginda Nabi SAW :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَلاَةُ اللَّيلِ مَثْنَى مَثْنَى
Dari Ibnu ‘Umar ra., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Shalat malam itu dua rakaat salam, dua rakaat salam.” (HR. Bukhori dan Muslim)
وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ: «صَلاَةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى».
Adapun hadits yang dishohikan oleh Ibnu Hibban berbunyi, “Shalat di malam dan siang hari itu dua rakaat salam, dua rakaat salam.”
c. Membaca surat Al Kautsar 17x dan seterusnya bukan merupakan sesuatu yang terlarang dan melanggar. Sehingga dilaksanakan tidak mengapa. Juga doa yang dipanjatkan setelah sholat, itu semua tidak menjadi masalah.
8. Apakah ayat tertentu itu memang betul mengandung khasiat tertentu ?
Mengenai hal ini, kami ambilkan fatwa Syaikh Ibnu Taimiyah, ulama panutan utama kaum Wahabi berkata dalam al-‘Aqidah al-Wasithiyyah:
ومن أصول أهل السنة : التصديق بكرامات الأولياء وما يجري الله على أيديهم من خوارق العادات في أنواع العلوم والمكاشفات
9. Lalu apa kesimpulannya ?
Jawab :
Kesimpulannya adalah jangan meyakini hari tertentu adalah hari sial. Untuk mengamalkan amalan tertentu, diperbolehkan tetapi tetap diperhatikan unsur fiqihnya agar ibadahnya tetap sah dan tidak salah alamat.
Dalam mengamalkan amalan tersebut, agar mendapatkan fadhilah lebih, niatkanlah juga untuk menyelisihi kebiasaan kaum jahiliyah. Kaum jahiliyah pada Bulan Safar terlebih Rabu terakhir mereka mengurung diri di rumah, tidak berani pergi kemana-mana, karena khawatir terkena bala’. Justru umat Muslim dianjurkan oleh para Ulama’ untuk tidak mengurung diri di rumah, maka dibuatkan acara bersama entah di masjid, langgar, maupun mushola, keluar dari rumah untuk berkumpul, kegiatannya diisi dengan do’a bersama dan rangkaian yang lain. Ini merupakan bentuk kegiatan yang baik. Jangan lupa untul senantiasa bertawakkal kepada Allah.
Mengubah tradisi yang keliru menjadi tradisi Islam dengan mengganti isinya agar sesuai dengan syariat merupakan ajaran Nabi SAW :
عَنْ أُمِّ سَلَمَة قَالَتْ كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم يَصُوْمُ يَوْمَ السَّبْتِ وَيَوْمَ الْأَحَدِ أَكْثَرَ مِمَّا يَصُوْمُ مِنَ الْأَيَّامِ وَيَقُوْلُ إِنَّهُمَا عِيْدَا الْمُشْرِكِيْنَ فَأَنَا اُحِبُّ أَنْ أُخَالِفَهُمْ
Ummu Salamah ra. berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW berpuasa pada hari Sabtu dan Ahad melebihi puasa pada hari-hari yang lain. Beliau SAW bersabda, ‘Sesungguhnya dua hari tersebut adalah hari raya orang-orang musyrik. Dan aku senang menyelisihi mereka.” (HR. Ahmad, Nasai, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban)
BuyaSoni Media ????️
FB, Youtube : Buya Soni
IG : @buyasoni @daarulhidayah
Telegram : Buya Soni Official
Website : www.daarulhidayah.com
========= ❁❁❁❁ =========
???? WA Grup Buya Soni
☏ 0853-2335-5549
???? Diizinkan untuk di sebarluaskan