Penentuan Hari Ied ikut Arab ? siapa bilang ?
Oleh Gus Ahmad Rifai
Belum tau ilmunya memang jadi penyebab utama munculnya prinsip2 yang gak pas. Terutama di bab Syari'at. Salah satu diantaranya, ada anggapan "kalau Mekah hari iednya Sabtu, kita juga Sabtu. Kalau Arab Saudi hari iednya hari Kamis, kita juga harus Kamis" huehehe. siapa bilang ❓يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
“Mereka bertanya tentang hilal-hilal, katakanlah bahwa itu adalah waktu-waktu bagi manusia dan bagi (ibadah) haji.”إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ.
“Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihat hilal lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1906 dan Muslim no. 1080). Termasuk dalam menentukan masuknya Bulan Dzulhijjah (Bulan Berkurban) yaitu dengan melihat hilal.عن أم سلمة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضحي فليمسك عن شعره وأظفاره
Dari Ummu Salamah, bahwa Nabi saw. bersabda, "Jika kalian telah melihat hilal bulan Dzulhijjah dan kalian ingin berqurban, maka hendaklah ia membiarkan (artinya tidak memotong) rambut dan kukunya. (HR. Muslim)ﺇﻥ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ ﺭﺃﻯ ﻓﻲ ﻟﻴﻠﺔ اﻟﺘﺮﻭﻳﺔ ﻛﺄﻥ ﻗﺎﺋﻼ ﻳﻘﻮﻝ: ﺇﻥ اﻟﻠﻪ ﻳﺄﻣﺮﻙ ﺑﺬﺑﺢ اﺑﻨﻚ، ﻓﻠﻤﺎ ﺃﺻﺒﺢ ﺭﻭﻯ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻪ ﺃﻱ ﻓﻜﺮ ﺃﻫﺬا اﻟﺤﻠﻢ ﻣﻦ اﻟﻠﻪ ﺃﻡ ﻣﻦ اﻟﺸﻴﻄﺎﻥ؟ ﻓﺴﻤﻲ ﻳﻮﻡ اﻟﺘﺮﻭﻳﺔ. ﻓﻠﻤﺎ ﻛﺎﻧﺖ اﻟﻠﻴﻠﺔ اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﺭﺃﻯ ﺫﻟﻚ ﺃﻳﻀﺎ ﻭﻗﻴﻞ ﻟﻪ اﻟﻮﻋﺪ، ﻓﻠﻤﺎ ﺃﺻﺒﺢ ﻋﺮﻑ ﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ اﻟﻠﻪ ﻓﺴﻤﻲ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ. ﺛﻢ ﺭﺃﻯ ﻣﺜﻠﻪ ﻓﻲ اﻟﻠﻴﻠﺔ اﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻓﻬﻢ ﺑﻨﺤﺮﻩ ﻓﺴﻤﻲ ﻳﻮﻡ اﻟﻨﺤﺮ
Sesungguhnya (Nabi) Ibrahim as. bermimpi dimalam Tarwiyah (tgl 8 Dzulhijjah) seperti seorang berkata "Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk menyembelih putramu. Ketika esok hari, Beliau as. berfikir apakah ini ilham dari Allah SWT atau syetan ? Maka hari tersebut dinamakan hari Tarwiyah (dari kata Rowa). Ketika malam kedua, beliau bermimpi yang sama, ketika esok hari, beliau mengetahui bahwa ilham tersebut dari Allah SWT, maka hari tersebut dinamakan Hari 'Arofah (dari kata 'Arofa). Kemudian di malam ketiga, beliau bermimpi yang sama, (maka keesokan harinya) beliau melaksanakan penyembelihan, maka hari itu dinamakan hari penyembelihan. (Tafsir Qurthubi juz 5 hal 102)باب بيان أن لكل بلد رؤيتهم وأنهم إذا رأوا الهلال ببلد لا يثبت حكمه لما بعد عنهم
"Bab yang berisi Penjelasan bahwa Setiap Negara diharuskan mengikuti rukyah (hilal) di masing-masing dan apabila sebagian negara melihat hilal, tidak dapat ditetapkan hal yang sama bagi negara yang jauh darinya." yang didalamnya terdapat Hadits berisikan kisahعن كريب أن أم الفضل بنت الحارث بعثته إلى معاوية بالشام قال فقدمت الشام فقضيت حاجتها واستهل علي رمضان وأنا بالشام فرأيت الهلال ليلة الجمعة ثم قدمت المدينة في آخر الشهر فسألني عبد الله بن عباس رضي الله عنهما ثم ذكر الهلال فقال متى رأيتم الهلال فقلت رأيناه ليلة الجمعة فقال أنت رأيته فقلت نعم ورآه الناس وصاموا وصام معاوية فقال لكنا رأيناه ليلة السبت فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه فقلت أو لا تكتفي برؤية معاوية وصيامه فقال لا هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم
riwayat dari Kuraib–, bahwa Ummu Fadhl bintu Al Harits pernah menyuruhnya untuk menemui Muawiyah di Syam, dalam rangka menyelesaikan suatu urusan. Kuraib melanjutkan kisahnya, setibanya di Syam, saya selesaikan urusan yang dititipkan Ummu Fadhl. Ketika itu masuk tanggal 1 Ramadhan dan saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam jumat. Kemudian saya pulang ke Madinah. Setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas bertanya kepadaku, “Kapan kalian melihat hilal?” tanya Ibnu Abbas. Kuraib menjawab, “Kami melihatnya malam Jumat.” “Kamu melihatnya sendiri?”, tanya Ibnu Abbas. “Ya, saya melihatnya dan penduduk yang ada di negeriku pun melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyah pun puasa.” Jawab Kuraib. Ibnu Abbas pun berkataلَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاَثِينَ أَوْ نَرَاهُ
Tetapi (kami tidak melihat hilal di malam Jum'at) kami melihat hilal pada malam Sabtu. Maka (kalau begitu) kita tidak akan berpuasa hingga menggenapkan bulan (yang lalu) menjadi 30 hari atau hingga kita melihat hilal. Aku (Kuraib) pun berkata, "Apakah tidak cukup bagi engkau untuk berpegang pada rukyahnya Muawiyah (di Syam) ?" Ibnu Abbas (di Madinah) menjawab, "Tidak, beginilah yang diperintahkan oleh Rosulullah saw." (HR. Muslim) Bahkan, kejadian perbedaan tanggal Hari Raya antar negara telah terjadi di zaman Sahabat dan mereka pun memutusnya tidak berdasarkan "Arab Saudi", tapi berdasarkan terlihat/tidaknya hilal di masing2 daerah. Inilah ajaran Rosul saw, yang diteruskan oleh para sahabat, ulama 4 madzhab, bahkan ulama' dari kawan2 salafi seperti Ibnu Taimiyah, Ustadz Muhammad bin Sholih Al Utsaimin pun juga mengajarkan hal yang sama.