Presiden Republik Indonesia Adalah Waliyul Amri Dharuri bisy Syaukah

Isu Terkini

Presiden Republik Indonesia Adalah Waliyul Amri Dharuri bisy Syaukah

Pertanyaan :
Sahkah atau tidak Keputusan Konferensi Alim Ulama di Cipanas tahun 1954, bahwa Presiden RI (Ir. Soekarno) dan alat-alat negara adalah waliyul amri dharuri bisy syaukah (Penguasa Pemerintahan secara dharurat sebab kekuasaannya)? (NU Cab. Blitar)

Jawaban :
Betul, sudah sah keputusan tersebut. Keterangan, dalam kitab:

1. Ihya’ Ulum al-Din¹

الأصل العاشر أنه لو تعذر وجود الورع والعلم فيمن يتصدى للإمامة وكان في صرفه إثارة فتنة لا تطاق حكمنا بانعقاد إمامته لأنا بين أن تحرك فتنة بالاستبدال فما يلقى المسلمون فيه من الضرر يزيد على ما يفوتهم من نقصان هذه الشروط التي أثبتت لمزية المصلحة فلا يهدم أصل المصلحة شغفا بمزاياها كالذي يبني قصرا ويهدم مصرا وبين أن نحكم بخلو البلاد عن الإمام وبفساد الأقضية وذلك محال ونحن نقضي بنفوذ قضاء أهل البغي في بلادهم لمسيس حاجتهم فكيف لا نقضي بصحة الإمامة عند الحاجة والضرورة

Dasar yang kesepuluh, seandainya tidak ada orang wara’ (bertakwa) dan berilmu untuk diangkat menjadi imam (penguasa pemerintah) dalam hal fitnah yang ditimbulkan karena kebijakannya tidak dapat dihindari, maka kita memandang sah kedudukannya sebagai imam. Sebab kita dihadapkan kepada dua pilihan. Pertama, timbulnya fitnah manakala dilakukan pergantian (imam yang zalim), artinya madharat yang menimpa umat Islam akan lebih besar dibanding dengan membiarkan imam yang tidak memenuhi syarat, di mana syarat tersebut memang diperlukan untuk kemaslahatan. Sebab, prinsip kemaslahatan tidak boleh dihancurkan karena ingin mencapai kemaslahatan yang sempurna, seperti orang yang membangun suatu gedung tetapi menghancurkan kotanya. Kedua, membiarkan Negara tanpa imam dan rusaknya tatanan hukum, suatu hal yang tidak boleh terjadi.

Kita memandang sah keputusan hukum qadhi (hakim) yang zalim dalam wilayah kekuasaanya karena memang sangat diperlukan (dalam kehidupan mereka). Bagaimana mungkin kita tidak memandang sah seorang imam (yang tidak memenuhi syarat) dalam keadaan yang sangat dibutuhkan dan karena darurat.

2. Kifayah al-Akhyar²

قال الغزالي واجتماع هذه الشروط متعذر في عصرنا لخلو العصر عن المجتهد المستقل فالوجه تنفيذ قضاء كل من ولاه سلطان ذو شوكة وإن كان جاهلا أوفاسقا لئلا تتعطل مصالح المسلمين. قال الرافعي وهذا أحسن

Imam al-Ghazali berpendapat: “Keberadaan syarat-syarat (yang selayaknya ada bagi seorang pemimpin) secara lengkap itu sulit ditemukan pada masa kita, karena tidak adanya mujtahid mandiri. Dengan begitu maka boleh melaksanakan semua keputusan yang telah ditetapkan penguasa walaupun bodoh atau fasik agar kepentingan umat Islam tidak tersiasia. Menurut al-Rafi’i pendapat ini adalah yang paling baik.

Sumber :
¹Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, (Mesir: Muassasah al-Halabi, 1387 H/1968 M), Jilid I, h. 157.
²Abu Bakar bin Muhammad al-Hishni al-Dimasyqi, Kifayah al-Akhyar, (Surabaya: Maktabah Ahmad Nabhan, t.th.), Juz II, h. 110.

Disarikan dari :
KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDHATUL ULAMA KE-20 Di Surabaya Pada Tanggal 10 – 15 Muharram 1374 H. / 8-13 September 1954 M. 289