Perbedaan Penentuan 1 Romadhon / 1 Syawal ? INILAH JAWABNYA !

╔═════ ???????? ═════╗
Perbedaan Penentuan 1 Romadhon / 1 Syawal ?
INILAH JAWABNYA !
╚═════ ???????? ═════╝

????‍♀Oleh : Gus Ahmad Rifai

Bismillah, wal hamdulillâh was sholâtu was salâmu ‘alâ rosûlillâh.

Perbedaan dalam penentuan awal bulan adalah sebuah pembahasan yang tidak pernah usang.

Dari mulai perdebatan ilmiah hingga perdebatan angkringan mengiringi pembicaraan sehari-hari masyarakat. Berikut kami sajikan pembahasannya :

1⃣ Ikut Pemerintah

Mengikuti pemerintah adalah sebuah perintah syar’i. Allah ﷻ berfirman :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ
Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan Ulil Amri di antara kamu. (QS. An Nisa’ : 59)

Sebenarnya yang kita ikuti bukan sekedar alasan “ikut pemerintah”, tetapi kita ikut pemerintah karena memang pemerintah sampai sekarang dalam urusan penentuan awal Bulan masih sesuai dengan syariat.

2️⃣ Dalam Urusan Apa Pemerintah Wajib Ditaati ?

Dalam menafsirkan Qur’an Surat An Nisa’ : 59 diatas, para ulama memberikan penjelasan :

أطيعوا السلطان في سبعة : ضرب الدراهيم والدنانير والمكاييل والأوزان والأحكام والحج والجمعة والعيدين والجهاد
Taatlah kalian kepada Penguasa pada 7 perkara :
1) Pembuatan mata uang dirham dan dinar;
2) Takaran dan timbangan;
3) Penetapan hukum-hukum;
4) Haji;
5) Jum’at;
6) Dua hari raya;
7) Jihad.
(Al Jâmi’ li Ahkâm al Qur’ân juz 5 hal. 167)

Jadi penentuan 2 hari raya adalah wewenang Pemerintah yang wajib kita ikuti.

3️⃣ Apa yang Dimaksud Bahwa Pemerintah Sesuai Syariat ?

Dalam urusan penentuan awal Bulan, Pemerintah RI -alhamdulillâh- hingga saat ini konsisten dengan syariat. Dalam penentuan awal Bulan, standar yang digunakan adalah hilal. Allah ﷻ berfirman :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
“Mereka bertanya tentang hilal-hilal, katakanlah bahwa itu adalah waktu-waktu bagi manusia dan bagi (ibadah) haji.” (QS. Al Baqoroh : 189)

4️⃣ Metode yang Digunakan

Metode yang digunakan pemerintah yang dijadikan standar di dalam Syariat adalah rukyatul hilal. Akan tetapi, dalam melakukan rukyatul hilal, Pemerintah tidak pula meninggalkan hisab. Buktinya, ketika kita membuka kalender tahun 2100, sudah tertulis kapan perkiraan idul fitri. Juga sudah bisa diketahui kapan terjadi gerhana di tahun-tahun mendatang. Bahkan dalam pelaksanaan rukyatul hilal pun juga tidak terlepas dari hisab. Hisab dalam metode rukyatul hilal digunakan untuk menentukan titik arah teropong, ketinggian teropong, jam dilaksanakan rukyatul hilal, dll.

Dalam penentuan awal Bulan, -terutama awal Romadhon, Syawal dan Dzulhijjah karena didalamnya terdapat Puasa Romadhon, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha,- setiap tanggal 29 Sya’ban (sebelum Romadhon) atau 29 Romadhon (sebelum Syawal) atau 29 Dzulqo’dah (sebelum Dzulhijjah), Pemerintah melaksanakan rukyatul hilal di lebih dari 65 titik yang tersebar di seluruh Provinsi di Indonesia. Sehingga apabila hilal oleh semua petugas dinyatakan tidak terlihat, hampir mustahil bahwa hilal tidak terlihat hanya karena alasan-alasan “sepele”. Alasan hilal tersebut tidak terlihat karena memang belum mencapai ketinggian dan sudut elongasi tertentu.

5️⃣ Standar Penentuan Awal Bulan

Dalam hal apapun, Syariat mengatur standar dan kriteria tertentu.

Seperti dalam penentuan waktu sholat, kadar timbangan zakat fitrah, dll., Syariat memiliki standar / kriteria tertentu.

Contoh :
— Dalam penentuan zakat, standar mutlak ukurannya adalah sho’ (mangkok takar yg dibuat oleh Rasulullah ﷺ). Ini standar baku, tidak boleh dirubah-rubah.

— Dalam penentuan waktu sholat dzuhur, standarnya adalah matahari pada titik zawal (tergelincir sedikit), dan waktu sholat yang lainnya. Ini juga standar baku.

Jadi, dalam masing-masing perkara, terdapat standarisasi dalam syariat.

Adapun, dalam menentukan masuknya awal bulan, perintah Nabi Muhammad ﷺ adalah dengan rukyatul hilal (melihat hilal).

Dari Ibnu ‘Umar ra., ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda,
إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ.
“Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah (1 Romadhon). Jika kalian melihat hilal lagi, maka berhari rayalah (Idul Fitri / 1 Syawal). Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1906 dan Muslim no. 1080).

Sehingga menurut Syariat, sebagaimana perintah Rasulullah ﷺ dalam hadits diatas bahwa kriteria penentuan awal bulan bukan sekedar wujûdul hilâl / hilal sudah ada, tetapi harus memenuhi imkânur rukyah, yaitu hilal sudah ada dan memungkinkan untuk bisa dilihat.

6️⃣ Bagaimana jika Pemerintah RI memutuskan hari raya berbeda dengan Pemerintah Saudi Arabia ?

Yang perlu dipahami adalah bahwa Pemerintah RI tidak membuat-buat di dalam keputusan awal bulan. Artinya, hal tersebut murni bukan kehendak manusia. Yang bisa mengatur hilal hanyalah Allah ﷻ. Yang terjadi seperti apa, itulah yang kemudian ditetapkan dan di-ikhbar-kan oleh Pemerintah.

Adapun, apabila terjadi perbedaan hari Raya antara Penetapan Pemerintah RI dengan Pemerintah Saudi Arabia, maka hal tersebut adalah wajar.

Dalam ilmu falak, penanggalan hijriyah yang berbasis perputaran bulan, memang negeri-negeri yang berada di sebelah barat berpotensi ‘lebih dulu’ melihat hilal. Adapun dalam ukuran waktu yang berdasarkan pada matahari, maka negeri-negeri di sebelah barat memiliki jeda waktu lebih lamnat dibanding negeri timur. Hal ini terjadi karena rotasi bumi pada porosnya.

Dapat kita saksikan bahwa kaum muslimin di negeri timur sudah mulai masuk waktu Subuh (waktu dimulai puasa) lebih dahulu sebelum kaum muslimin yang berada di sebelah baratnya, begitu pula dengan buka puasanya. Hal ini terjadi karena fajar di negeri timur terbit lebih dulu dari negeri barat. Begitu pula dengan tenggelamnya matahari lebih dulu di negeri timur daripada negeri barat.

Akan tetapi, dalam penentuan awal Bulan, dimungkinkan pada hari yang bersamaan juga dimungkinkan terjadi perbedaan. Apabila terjadi perbedaan, pasti negeri-negeri di barat lebih dahulu dalam masuknya awal bulan dibanding negeri timur. Tidak pernah sebaliknya.

Maka dalam masalah penentuan hari raya Ied, kita mengikuti penentuan hilal di negeri kita, Indonesia.

7️⃣ Mengikuti Mathla’ Di Masing-Masing Daerah

Dalam posisi letak geografis, Indonesia memiliki mathla’ Indonesia yang berbeda dengan Arab Saudi. Maka masing-masing mengikuti hilal di daerahnya sendiri-sendiri, tanpa bergantung dengan daerah lain. Diperbolehkan menentukan awal bulan dengan bergantung pada daerah lain hanya jika memiliki mathla’ yang sama.

Bahkan Imam Muslim dalam Kitab Hadits Shohihnya, membuat bab

باب بيان أن لكل بلد رؤيتهم وأنهم إذا رأوا الهلال ببلد لا يثبت حكمه لما بعد عنهم 
“Bab yang berisi Penjelasan bahwa Setiap Negara diharuskan mengikuti rukyah (hilal) di masing-masing dan apabila sebagian negara melihat hilal, tidak dapat ditetapkan hal yang sama bagi negara yang jauh darinya.”

yang didalamnya terdapat Hadits berisikan kisah
عن كريب أن أم الفضل بنت الحارث بعثته إلى معاوية بالشام قال فقدمت الشام فقضيت حاجتها واستهل علي رمضان وأنا بالشام فرأيت الهلال ليلة الجمعة ثم قدمت المدينة في آخر الشهر فسألني عبد الله بن عباس رضي الله عنهما ثم ذكر الهلال فقال متى رأيتم الهلال فقلت رأيناه ليلة الجمعة فقال أنت رأيته فقلت نعم ورآه الناس وصاموا وصام معاوية فقال لكنا رأيناه ليلة السبت فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه فقلت أو لا تكتفي برؤية معاوية وصيامه فقال لا هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم 

riwayat dari Kuraib–, bahwa Ummu Fadhl bintu Al Harits pernah menyuruhnya untuk menemui Muawiyah di Syam, dalam rangka menyelesaikan suatu urusan.
Kuraib melanjutkan kisahnya, setibanya di Syam, saya selesaikan urusan yang dititipkan Ummu Fadhl. Ketika itu masuk tanggal 1 Ramadhan dan saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam jumat. Kemudian saya pulang ke Madinah. Setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas bertanya kepadaku, “Kapan kalian melihat hilal?” tanya Ibnu Abbas. Kuraib menjawab, “Kami melihatnya malam Jumat.” “Kamu melihatnya sendiri?”, tanya Ibnu Abbas. “Ya, saya melihatnya dan penduduk yang ada di negeriku pun melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyah pun puasa.” Jawab Kuraib.

Ibnu Abbas pun berkata
لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاَثِينَ أَوْ نَرَاهُ
Tetapi (kami tidak melihat hilal di malam Jum’at) kami melihat hilal pada malam Sabtu. Maka (kalau begitu) kita tidak akan berpuasa hingga menggenapkan bulan (yang lalu) menjadi 30 hari atau hingga kita melihat hilal.

Aku (Kuraib) pun berkata, “Apakah tidak cukup bagi engkau untuk berpegang pada rukyahnya Muawiyah (di Syam) ?”

Ibnu Abbas (di Madinah) menjawab, “Tidak, beginilah yang diperintahkan oleh Rosulullah saw.” (HR. Muslim)

????????????
Bahkan, kejadian perbedaan tanggal Hari Raya antar negara telah terjadi di zaman Sahabat dan mereka pun memutusnya tidak berdasarkan “Arab Saudi”, tapi berdasarkan terlihat/tidaknya hilal di masing2 daerah.

Inilah ajaran Rosul saw, yang diteruskan oleh para sahabat, ulama 4 madzhab, bahkan ulama’ dari kawan2 salafi seperti Ibnu Taimiyah, Ustadz Muhammad bin Sholih Al Utsaimin pun juga mengajarkan hal yang sama.
????????????

Wallâhu a’lam bis showâb

BuyaSoni Media ????️
FB, Youtube : Buya Soni
IG : @buyasoni @daarulhidayah
Telegram : Buya Soni Official
Website : www.daarulhidayah.com

========= ❁❁❁❁ =========
???? WA Grup Buya Soni
☏ 0853-2335-5549
???? Diizinkan untuk di sebarluaskan