Family Planning (Perencanaan Keluarga)

Isu Terkini

Family Planning (Perencanaan Keluarga)

Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya membatasi keturunan/merencanakan keluarga (family planning)?

Jawaban:
Kalau dengan ‘azl (mengeluarkan air mani di luar rahim) atau dengan alat yang mencegah sampainya mani ke rahim seperti kopacis/kondom, maka hukumnya makruh. Begitu juga makruh hukumnya kalau dengan meminum obat untuk menjarangkan kehamilan. Tetapi kalau dengan sesuatu yang memutuskan kehamilan sama sekali, maka hukumnya haram, kecuali kalau ada bahaya. Umpamanya saja karena terlalu banyak melahirkan anak yang menurut pendapat orang yang ahli tentang hal ini bisa menjadikan bahaya, maka hukumnya boleh dengan jalan apa saja yang ada.

Keterangan dari kitab:

¹Asna al-Mathalib
وَالْعَزْلُ تَحْرُزًا مِنَ الْوَلَدِ مَكْرُوهُ وَإِنْ أَذِنَتْ فِيهِ الْمَعْزُولُ عَنْهَا حُرَّةً كَانَتْ أَوْأَمَةً لِأَنَّهُ طَرِيقٌ إِلَى قَطْعِ النَّسَلِ
Artinya:
Adapaun al-azl (mengeluarkan sperma di luar rahim) adalah makruh walaupun pihak wanita mengizinkan, baik sebagai wanita merdeka maupun budak. Karena al-azl tersebut merupakan cara untuk memutus keturunan.

²Talkhis al-Murad
أَفْتَى ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ وَابْنُ يُونُسَ بِأَنَّهُ لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَسْتَعْمِلَ دَوَاءٌ يَمْنَعُ الْحَبْلَ وَلَوْ بِرِضَا الزَّوْجِ
Artinya:
Ibn Abdussalam dan Ibn Yunus berfatwa, sesungguhnya tidak halal bagi istri menggunakan obat anti kehamilan walaupun dengan persetujuan suami.

³ Hasyiyah al-Bajuri
وَكَذَا اسْتِعْمَالُ الْمَرْأَةِ الشَّيْءَ الَّذِي يُبْطِئُ الحَبْلَ وَيَقْطَعُهُ مِنْ أَصْلِهِ فَيُكْرَهُ فِي الْأَوَّلِ وَيَحْرُمُ فِي الثَّانِي
Artinya:
Demikian halnya wanita menggunakan sesuatu (seperti alat kontrasepsi) yang memperlambat dan memutus kehamilan. Maka hukumnya makruh untuk yang pertama dan haram utuk yang kedua.

⁴Pendapat Muktamar

وَعِنْدَ وُجُودِ الضَّرُورَةِ فَعَلَى الْقَاعِدَةِ الْفِقْهِيَّةِ، إِذَا تَعَارَضَتْ الْمَفْسَدَتَانِ رُوْعِيَ أَعْظَمُهُمَا شَرَارًا بِارْكِتَابِ أَحَنُهِمَا مَفْسَدَةٌ
Artinya:
Dan ketika dharurat maka sesuai dengan kaidah fiqhiyah, jika ada dua bahaya saling mengancam maka diwaspadai yang lebih besar bahayanya dengan melaksanakan yang paling ringan bahayanya

Sumber:
¹Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib, (Kairo: al-Kutub al-Islami, t. th.), Jilid III, h. 186.
²Abdurrahman bin Muhammad Ba’ alawi, Ghayah Talkhis al-Murad min Fatawa Ibn Ziyad, (Indonesia: Syirkah Nur Asia, t. th.), h. 247.
³Ibrahim al-Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri, (Mesir: Isa al-Halabi, 1922), Jilid II, h. 95.

Disarikan dari:
KEPUTUSAN KONFERENSI BESAR PENGURUS BESAR SYURIAH NAHDHATUL ULAMA KE 1 Di Jakarta Pada Tanggal 21-25 Syawal 1379 H. / 18-22 April 1960 M.

BuyaSoni Media ????️
FB, Youtube : Buya Soni
IG : @buyasoni @daarulhidayah
Telegram : Buya Soni Official
Website : www.daarulhidayah.com

========= ❁❁❁❁ =========
???? WA Grup Buya Soni
☏ 0853-2335-5549
???? Diizinkan untuk di sebarluaskan