Menjelang akhir desember, banyak sekali pertanyaan masuk mengenai mengucapkan ‘Selamat Natal’. Sebenarnya, sudah cukup banyak keterangan dari Para Guru yang menjelaskan tentang hal ini, tetapi kebanyakan berupa video. Sehingga, menurut Penulis, perlu disusun dalam bentuk tulisan supaya dapat menjadi wasilah pemahaman yang utuh terhadap permasalahan ini.

Perlunya berbuat adil
ﻻ ﻳَﻨْﻬَﺎﻛُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻦِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﻢْ ﻳُﻘَﺎﺗِﻠُﻮﻛُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺨْﺮِﺟُﻮﻛُﻢ ﻣِّﻦ ﺩِﻳَﺎﺭِﻛُﻢْ ﺃَﻥ ﺗَﺒَﺮُّﻭﻫُﻢْ ﻭَﺗُﻘْﺴِﻄُﻮﺍ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﻘْﺴِﻄِﻴﻦَ
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah: 8)

Ayat tentang berbuat adil ini turun ketika orang-orang Kafir belum memerangi Nabi SAW, sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Jalalain berikut ini :
«لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم» من الكفار «في الدين ولم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم» بدل اشتمال من الذين «وتقسطوا» تفضوا «إليهم» بالقسط، أي بالعدل وهذا قبل الأمر بجهادهم «إن الله يحب المقسطين» بالعادلين.

Adapun dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini berlaku kepada orang kafir yang dipastikan tidak mengganggu orang muslim seperti wanita dan orang yang lemah, sebagaimana berikut :
وقوله تعالى : ( لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم في الدين ولم يخرجوكم من دياركم ) أي لا ينهاكم عن الإحسان إلى الكفرة الذين لا يقاتلونكم في الدين ، كالنساء والضعفة منهم

Sehingga ayat ini justru menjadi dalil untuk berbuat adil, yaitu melakukan sesuatu sesuai pada porsinya. Memberi kepada muslim sesuai dengan haknya, serta berkomunikasi dengan non muslim tanpa melanggar batasnya.

Arti ‘Tahniah’
ﺍﻟﺘَّﻬْﻨِﺌَﺔُ ﺿِﺪُّ ﺍﻟﺘَّﻌْﺰِﻳَﺔِ ﻓَﻬِﻲَ ﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﺑﻌْﺪ ﺍﻟﺴُّﺮُﻭﺭِ ، ﻭَﺍﻟﺘَّﻌْﺰِﻳَﺔُ ﺣَﻤْﻞُ ﺍﻟْﻤُﺼَﺎﺏِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺼَّﺒْﺮِ ﺑِﻮَﻋْﺪِ ﺍﻟْﺄَﺟْﺮِ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀِ ﻟَﻪُ .
“Tahniah adalah lawan dari kata Ta`ziyah. yakni ucapan selamat yang diucapkan setelah terjadinya suatu hal yang menggembirakan. Sedangkan ta`ziyah adalah anjuran kepada seorang yang tertimpa musibah untuk bersabar dengan menuturkan balasan pahala yang dijanjikan dan berdoa untuknya.” (Hasyiyah al Bujairomi jilid 5 hal. 434)

Mayoritas Ulama dari kalangan 4 Madzhab mengharamkan ucapan Selamat pada Hari Raya Non Muslim

a. Madzhab Hanafi
Ibnu Najm dalam al Bahr al Raiq Syarah Kanz al Daqâiq jilid 8 hal. 555 menyebutkan
قال أبو حفص الكبير رحمه الله : لو أن رجلا عبد الله تعالى خمسين سنة ثم جاء يوم النيروز وأهدى إلى بعض المشركين بيضة يريد تعظيم ذلك اليوم فقد كفر وحبط عمله وقال صاحب الجامع الأصغر إذا أهدى يوم النيروز إلى مسلم آخر ولم يرد به تعظيم اليوم ولكن على ما اعتاده بعض الناس لا يكفر ولكن ينبغي له أن لا يفعل ذلك في ذلك اليوم خاصة ويفعله قبله أو بعده لكي لا يكون تشبيها بأولئك القوم , وقد قال صلى الله عليه وسلم من تشبه بقوم فهو منهم وقال في الجامع الأصغر رجل اشترى يوم النيروز شيئا يشتريه الكفرة منه وهو لم يكن يشتريه قبل ذلك إن أراد به تعظيم ذلك اليوم كما تعظمه المشركون كفر, وإن أراد الأكل والشرب والتنعم لا يكفر
Abu Hafs Al-Kabir rahimahullâh berkata: “Apabila seorang muslim yang telah menyembah Allah selama 50 tahun, kemudian datang Hari Niruz (tahun baru kaum Parsi dan Kurdi pra Islam) dan ia memberi hadiah telur pada sebagian orang musyrik dengan tujuan untuk mengagungkan hari itu, maka dia kafir dan terhapus amalnya.”

Penulis Kitab al Jâmi’ al Asghar berkata : “Apabila ia memberi hadiah kepada sesama muslim dan tidak bermaksud mengagungkan hari itu tetapi karena menjadi tradisi sebagian manusia maka tidak kafir akan tetapi sebaiknya ia tidak melakukan hal tersebut secara khusus pada hari itu dan hendaknya ia melakukannya sebelum atau setelahnya supaya tidak menyerupai dengan kaum tersebut. Sebab Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari mereka.”

“Seorang lelaki yang membeli barang yang hanya dibeli oleh orang Kafir pada hari Niruz, dimana ia tidak membelinya sebelum hari itu maka apabila ia melakukan itu ingin mengagungkan hari itu sebagaimana orang kafir maka ia kafir. Apabila ia berniat untuk makan, minum, dan memanfaatkannya maka tidak sampai kafir.”

b. Madzhab Maliki
Ibnul Haj Al-Maliki dalam al Madkhal, jilid 2 hal. 46-48 menyatakan:
ومن مختصر الواضحة سئل ابن القاسم عن الركوب في السفن التي يركب فيها النصارى لأعيادهم فكره ذلك مخافة نزول السخط عليهم لكفرهم الذي اجتمعوا له . قال وكره ابن القاسم للمسلم أن يهدي إلى النصراني في عيده مكافأة له . ورآه من تعظيم عيده وعونا له على مصلحة كفره . ألا ترى أنه لا يحل للمسلمين أن يبيعوا للنصارى شيئا من مصلحة عيدهم لا لحما ولا إداما ولا ثوبا ولا يعارون دابة ولا يعانون على شيء من دينهم ; لأن ذلك من التعظيم لشركهم وعونهم على كفرهم وينبغي للسلاطين أن ينهوا المسلمين عن ذلك , وهو قول مالك وغيره لم أعلم أحدا اختلف في ذلك
Ibnu Qasim ditanya soal menaiki perahu yang dinaiki kaum Nasrani pada hari raya mereka. Ibnu Qasim tidak menyukai (memakruhkan) hal itu karena takut turunnya kebencian pada mereka karena mereka berkumpul karena kekufuran mereka. Ibnu Qasim juga tidak menyukai seorang muslim memberi hadiah pada Nasrani pada hari rayanya sebagai hadiah. Ia melihat hal itu termasuk mengagungkan hari rayanya dan menolong kemaslahatan kufurnya. Tidakkah engkau tahu bahwa tidak halal bagi muslim membelikan sesuatu untuk kaum Nasrani untuk kemaslahatan hari raya mereka baik berupa daging, baju; tidak meminjamkan kendaraan dan tidak menolong apapun dari agama mereka karena hal itu termasuk mengagungkan kesyirikan mereka dan menolong kekafiran mereka. Dan hendaknya penguasa melarang umat Islam melakukan hal itu. Ini pendapat Malik dan lainnya. Saya tidak tahu pendapat yang berbeda.

c. Madzhab Syafi’i
Dalam Kitab al Najm al Wahhaj fî Syarh al Minhâj jilid 9 hal. 244 serra Imam Khatib al Syarbini dalam Mughni al Muhtaj ilâ Ma’rifati Ma’âni Alfâdzi al Minhâj jilid 4 hal. 191 menyebutkan :
تتمة : يُعزّر من وافق الكفار في أعيادهم ،ومن يمسك الحية ، ومن يدخل النار ، ومن قال لذمي : يا حاج، ومَـنْ هَـنّـأه بِـعِـيـدٍ
Ditakzir (dijatuhi hukuman) bagi orang yang sepakat dengan orang kafir pada hari raya mereka, orang yang memegang ular (mengikuti tradisi perayaan hari raya non muslim), yang masuk api, orang yang berkata pada kafir dzimmi “Wahai Bergembiralah”, orang yang mengucapkan “Selamat Hari Raya (agama lain)”.

Ibnu Hajar al Haitami dalam al Fatâwâ al Fiqhiyah jilid 4 hal. 238-239 menyebutkan :
ثم رأيت بعض أئمتنا المتأخرين ذكرما يوافق ما ذكرته فقال : ومن أقبح البدع موافقة المسلمين النصارى في أعيادهم بالتشبه بأكلهم والهدية لهم وقبول هديتهم فيه وأكثر الناس اعتناء بذلك المصريون وقد قال صلى الله عليه وسلم من تشبه بقوم فهو منهم بل قال ابن الحاج لا يحل لمسلم أن يبيع نصرانيا شيئا من مصلحة عيده لا لحما ولا أدما ولا ثوبا ولا يعارون شيئا ولو دابة إذ هو معاونة لهم على كفرهم وعلى ولاة الأمر منع المسلمين من ذلك ومنها اهتمامهم في النيروز… ويجب منعهم من التظاهر بأعيادهم
“Aku juga melihat sebagian ulama muta’akhirin menuturkan pendapat yang sama denganku, bahwa : Termasuk dari bid’ah terburuk adalah setujunya seorang muslim pada Nasrani pada hari raya mereka dengan menyerupai mereka dengan makanan dan hadiah serta menerima hadiah pada hari itu. Kebanyakan orang yang melakukan itu adalah kalangan orang Mesir. Nabi SAW bersabda ; “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari mereka.” Ibnu Al-Haj berkata: Tidak halal bagi muslim menjual sesuatu kepada orang Nasrani untuk kemasalahan hari rayanya baik berupa daging, kulit atau baju. Hendaknya tidak meminjamkan sesuatu walupun berupa kendaraan karena itu menolong kekufuran mereka. Dan bagi pemerintah hendaknya mencegah umat Islam atas hal itu. Salah satunya adalah perayaan Niruz (Hari Baru)… dan wajib melarang umat Islam menampakkan diri (dengan mengikuti) pada hari raya non-muslim.

d. Madzhab Hambali
Dalam Kasyf al Qina’ an Matn al Iqna’ jilid 3 hal. 131, mengatakan :
ويحرم تهنئتهم وتعزيتهم وعيادتهم ( ; لأنه تعظيم لهم أشبه السلام .) وعنه تجوز العيادة ( أي : عيادة الذمي ) إن رجي إسلامه فيعرضه عليه واختاره الشيخ وغيره ( لما روى أنس } أن النبي صلى الله عليه وسلم عاد يهوديا , وعرض عليه الإسلام فأسلم فخرج وهو يقول : الحمد لله الذي أنقذه بي من النار { رواه البخاري ولأنه من مكارم الأخلاق .) وقال ( الشيخ ) ويحرم شهود عيد اليهود والنصارى ( وغيرهم من الكفار ) وبيعه لهم فيه ( . وفي المنتهى : لا بيعنا لهم فيه ) ومهاداتهم لعيدهم ( لما في ذلك من تعظيمهم فيشبه بداءتهم بالسلام.
Diharamkan mengucapkan selamat, takziyah (ziarah orang mati), ‘iyadah (ziarah orang sakit) kepada non-muslim karena itu berarti mengagungkan mereka menyerupai (mengucapkan) salam. Diperbolehkan ‘iyadah kafir dzimmi apabila diharapkan Islamnya dan hendaknya mengajak masuk Islam. Karena, dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, Nabi pernah ‘iyadah pada orang Yahudi dan mengajaknya masuk Islam lalu si Yahudi masuk Islam lalu berkata, “Alhamdulillah Allah telah menyelamatkan aku dari neraka.” Dan karena ‘iyadah termasuk akhak mulia. Tetap diharamkan menghadiri perayaan mereka karena hari raya mereka, karena hal itu termasuk mengagungkan mereka sehingga hal ini menyerupai memulai ucapan salam.

Mengucapkan tanpa Bermaksud Menyetujui Hari Raya Non Muslim ?
ﺇﻥ ﻗﺎﻟﻪ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﻟﻠﺬﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﻗﺼﺪ ﺗﻌﻈﻴﻢ ﺩﻳﻨﻬﻢ ﻭﻋﻴﺪﻫﻢ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻜﻔﺮ ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻘﺼﺪ ﺫﻟﻚ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺟﺮﻯ ﺫﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﻟﺴﺎﻧﻪ ﻓﻼ ﻳﻜﻔﺮ ﻟﻤﺎ ﻗﺎﻟﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻗﺼﺪ
Jika seorang Muslim mengucapkan ‘selamat’ kepada kafir dzimmi dengan niat mengagungkan agama mereka atau hari raya mereka maka orang tersebut menjadi kafir, sedangkan jika ia tidak bermaksud demikian, dan perkataan itu hanya ucapan lisan belaka maka ia tidak menjadi kafir dengan perkataan yang dikatakan tanpa maksud tersebut.

Adapun perkataan al Imam al Bulqini “tidak menjadi kafir jika ucapan itu dikatakan tanpa maksud” bukan berarti bahwa hal itu diperbolehkan, sebab yang ditanyakan di atas adalah masalah kafir atau tidak, bukan boleh atau tidaknya. Dan mengenai keharaman tahniah tersebut telah jelas disebutkan diatas bahwa pelakunya layak untuk dihukum.

Referensi :
√ ﻣﻮﺍﻫﺐ ﺍﻟﺠﻠﻴﻞ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﻣﺨﺘﺼﺮ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺧﻠﻴﻞ ( /18 27 )
ﻭَﺳُﺌِﻞَ ﺍﻟْﺒُﻠْﻘِﻴﻨِﻲُّ ﻋَﻦْ ﺭَﺟُﻞٍ ﻇَﻠَﻤَﻪُ ﻣُﻜَّﺎﺱٌ ﻇُﻠْﻤًﺎ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ : ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﻜْﺘُﺒُﻪُ ﻓُﻠَﺎﻥٌ ﺍﻟْﻤُﻜَّﺎﺱُ ﻣَﺎ ﻳَﻤْﺤِﻴﻪِ ﺭَﺑُّﻨَﺎ. ﻣَﺎ ﻳَﻠْﺰَﻣُﻪُ ؟ ﻓَﺄَﺟَﺎﺏَ ﺇﺫَﺍ ﻟَﻢْ ﻳَﻘْﺼِﺪْ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﻋَﺪَﻡَ ﺗَﻌَﻠُّﻖِ ﻗُﺪْﺭَﺓِ ﺍﻟﺮَّﺏِّ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻜْﻔُﺮُ ﺳَﻮَﺍﺀٌ ﻗَﺼَﺪَ ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﻤُﻜَّﺎﺱَ ﺷَﺪِﻳﺪُ ﺍﻟْﺒَﺄْﺱِ ﻳُﺼَﻤِّﻢُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻳَﻜْﺘُﺐُ ﺃَﻭْ ﻟَﻢْ ﻳَﻘْﺼِﺪْ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺈِﻥْ ﻗَﺼَﺪَ ﺃَﻥَّ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﻘْﺪِﺭُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺤْﻮِﻩِ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳَﻜْﻔُﺮُ ﻭَﻳُﺴْﺘَﺘَﺎﺏُ ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﺎﺏَ ﻭَﺇِﻟَّﺎ ﺿُﺮِﺑَﺖْ ﻋُﻨُﻘُﻪُ. ﻭَﺳُﺌِﻞَ ﻋَﻦْ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺬِﻣِّﻲٍّ ﻓِﻲ ﻋِﻴﺪٍ ﻣِﻦْ ﺃَﻋْﻴَﺎﺩِﻫِﻢْ : ﻋِﻴﺪٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ ﻋَﻠَﻴْﻚ. ﻫَﻞْ ﻳَﻜْﻔُﺮُ ﺃَﻡْ ﻟَﺎ ؟ ﻓَﺄَﺟَﺎﺏَ ﺇﻥْ ﻗَﺎﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢُ ﻟِﻠﺬِّﻣِّﻲِّ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﺼْﺪِ ﺗَﻌْﻈِﻴﻢِ ﺩِﻳﻨِﻬِﻢْ ﻭَﻋِﻴﺪِﻫِﻢْ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳَﻜْﻔُﺮُ ، ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﻘْﺼِﺪْ ﺫَﻟِﻚَ ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺟَﺮَﻯ ﺫَﻟِﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﻟِﺴَﺎﻧِﻪِ ﻓَﻠَﺎ ﻳَﻜْﻔُﺮُ ﻟِﻤَﺎ ﻗَﺎﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﻗَﺼْﺪٍ .

Beberapa Argumen yang Digunakan untuk Menghalalkan Mengucapkan Selamat Natal

a. Ucapan Selamat Natal hanya dilisan saja, bukan dari hati.

Jawaban :
Yang dihukumi dalam syariat adalah apa yang tampak dari lisan.
Sebagaimana kaidah :
عليكم بالظواهر atau نحكم بالظواهر

Sama seperti orang non muslim yang lisannya mengucap syahadat, meskipun didalam hatinya ia masih meyakini agama terdahulu, tapi bagi kita tetap kita hukumi Islam sesuai apa yang ia ucapkan.

Bahkan didalam kitab-kitab ulama’ mu’tabaroh seperti Sullam al Taufiq, terdapat pembahasan seseorang bisa menjadi kafir karena hanya sebatas ucapan.

b. Ada Perbedaan Pendapat dikalangan Ulama’ tentang Kebolehan Mengucapkan “Selamat Natal”

Kata-kata ini seakan menjadi legitimasi tentang kebolehan mengucapkan selamat natal, padahal jika kita bahas secara komperehensif, maka perbandingannya sangat jauh.

Ulama’ generasi salaf dan mutaqoddimin hingga pada zaman Imam Ibnu Hajar Al Haitami, tidak ada satupun yang memperbolehkan mengucapkan selamat natal. Bahkan jika ia mengucapkan hanya di lisan saja, hukumnya tetap berdosa meskipun ia tidak menjadi kafir.

Baru kemudian belakangan terdapat beberapa Ulama’ yang memperbolehkan mengucapkan selamat natal.

Jadi jika 90 ulama’ salaf dan mutaqoddimin mengharamkannya kemudian 10 ulama’ mutaakhirin memperbolehkannya, kita mengikuti siapa ?

Didalam kitab-kitab turots, sebagaimana dijelaskan dalam I’anah al Tholibin jilid 1 hal 19 disebutkan dengan sangat jelas, Ulama’ mayoritas mutaqoddimin lah yang harus lebih dijadikan patokan.

c. Diambil garis tengah sebagai win-win solution dengan mengucapkan “Selamat Hari Rayamu”

Solusi semacam ini bukan merupakan solusi. Mengambil solusi itu harus. Tetapi pertimbangan utamanya tentu adalah syariat. Sebagaimana kaidah :
الحسن ما حسنه الشرع
Yang dikatakan baik/benar adalah apa yang dikatakan baik/benar oleh Syariat.

Toleransi harus ditempatkan sesuai pada porsinya, karena jika melampaui batas, maka justru timbul kemudhorotan yang lain yang terkadang malah lebih besar dan kita tidak sadar.

BuyaSoni Media 📽️
FB, Youtube : Buya Soni
IG : @buyasoni @daarulhidayah
Telegram : Buya Soni Official
Website : www.daarulhidayah.com

========= ❁❁❁❁ =========
📚 WA Grup Buya Soni
☏ 0853-2335-5549
📰 Diizinkan untuk di sebarluaskan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here