الْحَمْدُ ِللهِرَبِّالْعَالَمِيْنَوَالصَّلاَةُوَالسَّلاَمُعَلَىأَشْرَفِاْلأَنْبِيَاءِوَالْمُرْسَلِيْنَوَعَلَىاَلِهِوَصَحْبِهِأَجْمَعِيْنَأَمَّابَعْدُ.

Pada artikel ini, kita akan membahas tentang komposisi dzikir yang dibaca ketika tahlilan, dimana ini merupakan salahsatu perkara yang dipermasalahkan oleh wahabi ketika ia menolak acara tahlilan.

Seiring berjalannya waktu, kita akan membuktikan bahwa alasan-alasan yg digunakan untuk menyalahkan  tahlilan adalah alasan yang dibuat buat, karena berulang kali kita jelaskan sesuai permintaannya yaitu dengan Hadits dan Pendapat Ulama Salaf, tetapi ia tetap mengingkarinya.

Simak pembahasan berikut ini.

Perintah Allah untuk Memperbanyak Dzikir

Allah SWT berfirman :

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُوااذْكُرُوااللَّهَذِكْرًاكَثِيرًا (٤١) وَسَبِّحُوهُبُكْرَةًوَأَصِيلًا (٤٢)

“Hai orang-orang yang beriman! berzikirlah (mengingat) kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. Ahzaab:41-42)

Ayat tersebut menjelaskan bahwasanya Allah SWT menyeru atau menganjurkan kepada makhluk ciptaannya untuk selalu berdzikir menyebut nama-nama Allah swt, dengan melafalkan dzikir sebanyak banyaknya.

Bahkan kita sangat dianjurkan untuk berdzikir di waktu pagi dan petang.

Rasulullah ﷺselalu berdzikir ditiap keadaan

وَعَنْعَائِشَةَرَضِيَاللهُعَنْهَا،قَالَتْ : كَانَرَسُوْلُاللهِ – صَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَ – يَذْكُرُاللهَعَلَىكُلِّأَحْيَانِهِ . رَوَاهُمُسْلِمٌ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berdzikir (mengingat) Allah pada setiap waktunya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Hadits diatas menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺselalu berdzikir kepada Allah swt disetiap waktu, selalu ingat kepada Allah swt bahwa setiap langkah beliau selalu melantunkan atau melafalkan dzikir-dzikir kepada Allah swt, dimanapun beliau berada bahkan semua aktivitas Rasulullah ﷺbeliau melantunkan dzikir-dzikir kepada Allah swt.

Dalil mengumpulkan komposisi bacaan tahlilan :

Di awal-awal hijrah kaum muhajirin ini dalam keadaan sulit dan mungkin ketika melihat orang kaya diantara mereka serasa enak (enak dipandang). Melihat kondisi seperti inipun tentunya Nabi ﷺharus memberikan ketenangan dan kedamaian kepada mereka agar mereka tidak minder. Sehingga pada akhirnya Nabi memberikan ketentraman, ketenangan dan keyakinan kepada para sahabatnya lewat sabdanya:

(Rasulullah ﷺbersabda;

أفلاأعلمكمشيئاتدركونبهمنسبقكموتسبقونبهمنبعدكمولايكونأحدأفضلمنكمإلامنصنعمثلماصنعتمقالوابلىيارسولاللهقالتسبحونوتحمدونوتكبرونخلفكلصلاةثلاثاوثلاثين

“Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu dimana kamu dapat mendahului, mengalahkan (pahala dan kebaikan) orang-orang sebelum kalian dan sesudah kalian, dan tidak akan ada seorang pun yang dapat mengalahkan kebaikan kalian kecuali orang tersebut melakukan sebagaimana yang kalian lakukan?” Mereka menjawab: “Tentu mau ya Rasulullah”. Rasulullah ﷺbersabda kembali, “Bacalah tasbih (subhanallaah), tahmid (alhamdulillaah) dan takbir (Allahu akbar) setiap selesai shalat (wajib) sebanyak tiga puluh tiga kali”.(HR. Bukhari no. 843 dan HR. Muslim no. 595).

Di dalam Riwayat yang lain dari Imam Muslim ada penjelasan:

غُفِرَتْخَطَايَاهُوَإِنْكَانَتْمِثْلَزَبَدِالْبَحْرِ

“Maka kesalahannya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.”

Penjelasannya :

Dengan demikian, mari kita biasakan membaca tasbih, tahmid, dan takbir tiga puluh tiga kali dan dzikir-dzikir yang lain nya. Semoga melalui bacaan tersebut, Allah mengampuni dosa kita.

Dari sekian penjelasan-penjelasan diatas tadi kesimpulan nya adalah bahwasanya tidak adanya dalil yang itu dari Al Qur’an maupun hadits yang melarang tentang adanya ” bacaan tahlilan ” tidak ada satupun. Bahkan isi dalam bacaan tahlilan tersebut merupakan bacaan-bacaan yang dianjurkan oleh Allah swt dan juga Rasulullah ﷺ, yang mana bahkan didalamnya terdapat banyak bacaan sunnah Nabi ﷺyang dikerjakan dan juga bacaan tahlilan tersebut mengandung bacaan tentang meminta pengampunan atas kesalahan kita sendiri atau orang lain baik itu disengaja maupun tidak disengaja. Maka kita sebagai umatnya juga harus mengamalkan bacaan-bacaan tersebut, ketika ada orang yang tidak membolehkan tahlilan karena dianggap itu tidak ada dalilnya ataupun Bid’ah maka biarkan saja kita yang tahu bahwa tahlilan itu baik diamalkan dan dilakukan maka kita amalkan.

(Mana dalil yg menunjukkan boleh membuat komposisi dzikir ???)

Coba perhatikan hadits ini:

عَنْأَنَسٍرضياللهعنهعَنِالنَّبِيِّصلىاللهعليهوسلمقَالَ : إِنَّللهِسَيَّارَةًمِنَالْمَلاَئِكَةِيَطْلُبُوْنَحِلَقَالذِّكْرِفَإِذَاأَتَوْاعَلَيْهِمْوَحَفُّوْابِهِمْثُمَّبَعَثُوْارَائِدَهُمْإِلىَالسَّمَاءِإِلَىرَبِّالْعِزَّةِتَبَارَكَوَتَعَالَىفَيَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَاأَتَيْنَاعَلىَعِبَادٍمِنْعِبَادِكَيُعَظِّمُوْنَآَلاَءَكَوَيَتْلُوْنَكِتَابَكَوَيُصَلُّوْنَعَلىَنَبِيِّكَمُحَمَّدٍصلىاللهعليهوسلموَيَسْأَلُوْنَكَلآَخِرَتِهِمْوَدُنْيَاهُمْفَيَقُوْلُتَبَارَكَوَتَعَالَى : غَشُّوْهُمْرَحْمَتِيْفَيَقُوْلُوْنَ : يَارَبِّإِنَّفِيْهِمْفُلاَناًالْخَطَّاءَإِنَّمَااعْتَنَقَهُمْاِعْتِنَاقًافَيَقُوْلُتَبَارَكَوَتَعَالَى : غَشُّوْهُمْرَحْمَتِيْفَهُمُالْجُلَسَاءُلاَيَشْقَىبِهِمْجَلِيْسُهُمْ . (رواهالبزارقالالحافظالهيثميفيمجمعالزوائد: إسنادهحسن،والحديثصحيحأوحسنعندالحافظابنحجر،كماذكرهفيفتحالباري 11/212)

“Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang selalu mengadakan perjalanan mencari majelis-majelis dzikir. Apabila para malaikat itu mendatangi orang-orang yang sedang berdzikir dan mengelilingi mereka, maka mereka mengutus pemimpin mereka ke langit menuju Tuhan Maha Agung – Yang Maha Suci dan Maha Luhur. Para malaikat itu berkata: “Wahai Tuhan kami, kami telah mendatangi hamba-hamba-Mu yang mengagungkan nikmat-nikmat-Mu, membaca kitab-Mu, bershalawat kepada nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan memohon kepada-Mu akhirat dan dunia mereka.” Lalu Allah menjawab: “Naungi mereka dengan rahmat-Ku.” Lalu para malaikat itu berkata: “Di antara mereka terdapat si fulan yang banyak dosanya, ia hanya kebetulan lewat lalu mendatangi mereka.” Lalu Allah – Yang Maha Suci dan Maha Luhur – menjawab: “Naungi mereka dengan rahmat-Ku, mereka adalah kaum yang tidak akan sengsara orang yang ikut duduk bersama mereka.” (HR. al-Bazzar. Al-Hafizh al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid [16769, juz 10, hal. 77]: “Sanad hadits ini hasan.” Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, hadits ini shahih atau hasan).

Hadits di atas menjadi dalil keutamaan dzikir berjamaah, dan isi bacaannya juga campuran, ada dzikir, ayat-ayat al-Qur’an dan sholawat.”

📍Ditulis oleh Ustadz Aldi

Tim Ilmiah PP Daarul Hidayah Bulakrejo, Sukoharjo dibawah bimbingan Gus Ahmad Rifai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here