Oleh Buya Soni

Polemik tentang cadar menjadi bola liar yang tak taukemana arah larinya. Isu dimunculkan, ditendang kesana kemari, menjadi umpan tak terarah.

Sebenarnya, bagaimana syariat memandang cadar ? Apakah ia bagian darinya atau ia hanya sekasar budaya saja ?

  1. Dasar Disyariatkannya Menutup Aurat

Allah ta’âlâ berfirman

وَقُلْلِلْمُؤْمِنَاتِيَغْضُضْنَمِنْأَبْصَارِهِنَّوَيَحْفَظْنَفُرُوجَهُنَّوَلَايُبْدِينَزِينَتَهُنَّإِلَّامَاظَهَرَمِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَبِخُمُرِهِنَّعَلَىٰجُيُوبِهِنَّ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaknya mereka menutupkan kain kudung kedadanya ,… (QS. An Nur : 31)

Bahkan Allah ta’âlâ memerintahkan kepada istri-istri nabi dan wanita beriman untuk menutup aurat mereka sebagaimana firman-Nya :

يَاأَيُّهَاالنَّبِيُّقُلْلِأَزْوَاجِكَوَبَنَاتِكَوَنِسَاءِالْمُؤْمِنِينَيُدْنِينَعَلَيْهِنَّمِنْجَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَأَدْنَىٰأَنْيُعْرَفْنَفَلَايُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَاللَّهُغَفُورًارَحِيمًا

Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzâb : 59)

Allâhta’âlâ juga berfrman :

وَإِذَاسَأَلْتُمُوهُنَّمَتَاعًافَاسْأَلُوهُنَّمِنْوَرَاءِحِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْأَطْهَرُلِقُلُوبِكُمْوَقُلُوبِهِنَّ

Apabila kamu (muslimin laki-laki) meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. (QS al-Ahzab : 53)

Rasulullah ﷺpernah menasehati Asma binti Abu Bakar radhiallâhu ‘anhuma ketika beliau datang ke rumah Nabi ﷺdengan mengenakan busana yang agak tipis. Rasulullah ﷺpun memalingkan mukanya sambil berkata :

يَاأَسْمَاءُإِنَّالْمَرْأَةَإِذَابَلَغَتِالْمَحِيضَلَمْيَصْلُحْأَنْيُرَىمِنْهَاإِلَّاهَذَاوَهَذَا

Wahai Asma ! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh nampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan). (HR. Abu Dâwud, no. 4104 dan al-Baihaqi, no. 3218)

Nabi juga pernah didatangi oleh seseorang yang menanyakan perihal aurat yang harus di tutup dan yang boleh di tampakkan, maka beliau pun menjawab :

احْفَظْعَوْرَتَكَإلَّامِنْزَوْجِكَأَوْمَامَلَكَتْيَمِينُكَ.

Jagalah auratmu kecuali terhadap (penglihatan) istrimu atau budak yang kamu miliki. (HR. Abu Dâwud, no.4017; Tirmidzi, no. 2794; Nasa’i dalam kitabnya Sunan al-Kubrâ, no. 8923; Ibnu Mâjah, no. 1920.)

Wanita yang tidak menutup auratnya di ancam tidak akan mencium bau surga sebagaimana yang di riwayatkan oleh Abu Hurairahradhiallâhu ‘anhu beliau berkata :

قَالَرَسُولُاللَّهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَ : صِنْفَانِمِنْأَهْلِالنَّارِلَمْأَرَهُمَا،قَوْمٌمَعَهُمْسِيَاطٌكَأَذْنَابِالْبَقَرِيَضْرِبُونَبِهَاالنَّاسَ،وَنِسَاءٌكَاسِيَاتٌعَارِيَاتٌمَائِلَاتٌمُمِيلَاتٌرُءُوسُهُنَّكَأَمْثَالِأَسْنِمَةِالْبُخْتِالْمَائِلَةِ،لَايَدْخُلْنَالْجَنَّةَوَلَايَجِدْنَرِيحَهَا،وَإِنَّرِيحَهَالَتُوجَدُمِنْمَسِيْرةٍكَذَاوَكَذَا

Rasulullah ﷺbersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (yang pertama adalah) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (yang kedua adalah) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berpaling dari ketaatan dan mengajak lainnya untuk mengikuti mereka, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim, no. 2128)

Dan diharamkan pula seorang lelaki melihat aurat lelaki lainnya atau wanita melihat aurat wanita lainnya, Rasûlullâh bersabda :

لاَيَنْظُرُالرَّجُلُإِلَىعَوْرَةِالرَّجُلِ،وَلاَالْمَرْأَةُإِلَىعَوْرَةِالْمَرْأَةِ،وَلاَيُفْضِيالرَّجُلُإِلَىالرَّجُلِفِيالثَّوْبِالْوَاحِدِ،وَلاَتُفْضِيالْمَرْأَةُإِلَىالْمَرْأَةَفِيالثَّوْبِالْوَحِدِ

Janganlah seorang lelaki melihat aurat lelaki (lainnya), dan janganlah pula seorang wanita melihat aurat wanita (lainnya). Seorang pria tidak boleh bersama pria lain dalam satu kain, dan tidak boleh pula seorang wanita bersama wanita lainnya dalam satu kain.” (HR. Muslim no. 338)

Begitu pentingnya menjaga aurat dalam agama Islam sehingga seseorang di perbolehkan melempar dengan kerikil orang yang berusaha melihat atau mengintip aurat keluarganya di rumahnya, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ :

لَوْاطَّلَعَفِيبَيْتِكَأَحَدٌوَلَمْتَأْذَنْلَهُخَذَفْتَهُبِحَصَاةٍفَفَقَأْتَعَيْنَهُمَاكَانَعَلَيْكَمِنْجُنَاحٍ

Jika ada orang yang berusaha melihat (aurat keluargamu) di rumahmu dan kamu tidak mengizinkannya lantas kamu melemparnya dengan kerikil sehingga membutakan matanya maka tidak ada dosa bagimu. (HR. Al-Bukhâri, no. 688, dan Muslim, no. 2158).

  1. Budaya Arab sebelum Islam

Sebelum turun ayat yang memerintahkan berhijab atau berjilbab, budaya masyarakat arab Jahiliyah adalah menampakkan aurat, bersolek jika keluar rumah, berpakaian seronok atau disebut dengan tabarruj.

Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:

وَقَرْنَفِيبُيُوتِكُنَّوَلَاتَبَرَّجْنَتَبَرُّجَالْجَاهِلِيَّةِالْأُولَىٰ

“Hendaknya kalian (wanita muslimah), berada di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian ber-tabarruj sebagaimana yang dilakukan wanita jahiliyah terdahulu”(QS. Al Ahzab: 33)

Sedangkan, yang disebut dengan jahiliyah adalah masa ketika Rasulullah ﷺbelum di utus. Ketika Islam datang, Islam mengubah budaya buruk ini dengan memerintahkan para wanita untuk berhijab. Ini membuktikan bahwa hijab atau jilbab adalah budaya yang berasal dari Islam.

Ketika turun ayat hijab, para wanita muslimah yang beriman kepada Rasulullah ﷺ seketika itu mereka mencari kain apa saja yang bisa menutupi aurat mereka. ‘Aisyah radhiallâhu ‘anha berkata:

لمَّانَزَلَتْهَذِهِالْآيَةُ ( وَلْيَضْرِبْنَبِخُمُرِهِنَّعَلَىجُيُوبِهِنَّ ) أَخَذْنَأُزْرَهُنَّفَشَقَّقْنَهَامِنْقِبَلِالْحَوَاشِيفَاخْتَمَرْنَبِهَا

“(Wanita-wanita Muhajirin), ketika turun ayat ini: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. An Nur: 31), mereka merobek selimut mereka lalu mereka berkerudung dengannya.” (HR. Bukhari 4759)

Menunjukkan bahwa sebelumnya mereka tidak berpakaian yang menutupi aurat-aurat mereka sehingga mereka menggunakan kain yang ada dalam rangka untuk mentaati ayat tersebut.

Sebab turunnya ayat ini sebagaimana yang di sebutkan dalam Shahih Muslim dari Ibnu Abbas radhiallâhu ‘anhumâ, beliau berkata:

كَانَتْالْمَرْأَةُتَطُوفُبِالْبَيْتِوَهِيَعُرْيَانَةٌ … فَنَزَلَتْهَذِهِالْآيَةُخُذُوازِينَتَكُمْعِنْدَكُلِّمَسْجِدٍ

Dahulu para wanita tawaf di Ka’bah tanpa mengenakan busana … kemudian Allâh menurunkan ayat :

يَابَنِيآدَمَخُذُوازِينَتَكُمْعِنْدَكُلِّمَسْجِدٍ

Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid …(QS. Al A’rof : 31) [HR. Muslim, no. 3028]

  1. Pendapat Para Fuqoha’
  1. Madzhab Hanafi

Madzhab Hanafi memandang bahwa wajah bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah bahkan bisa menjadi wajib jika dengan membuka wajah dikhawatirkan menimbulkan fitnah.

Imam Asy Syaranbalali berkata:

وجميعبدنالحرةعورةإلاوجههاوكفيهاباطنهماوظاهرهمافيالأصح،وهوالمختار

“Seluruh tubuh wanita yang merdeka (bukan budak) adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam serta telapak tangan luar, inilah pendapat ashoh (yang lebih benar) dan merupakan pilihan madzhab kami“ (Matan NuurulIidhah)

Imam Ibnu Abidin berkata:

تُمنَعُمنالكشفلخوفأنيرىالرجالوجههافتقعالفتنة،لأنهمعالكشفقديقعالنظرإليهابشهوة

“Terlarang bagi wanita untuk menampakan wajahnya karena khawatir akan dilihat oleh para lelaki, kemudian timbullah fitnah. Karena jika wajah dinampakkan, terkadang lelaki melihatnya dengan syahwat” (Hasyiah ‘AladDurr Al Mukhtaar, 3/188-189)

Imam Ibnu Najim berkata:

قالمشايخنا : تمنعالمرأةالشابةمنكشفوجههابينالرجالفيزمانناللفتنة

“Para ulama madzhab kami berkata bahwa terlarang bagi wanita muda untuk menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki di zaman kita ini, karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah” (al Bahr alRaiq hal. 284)

Imam Ibnu Najim wafat pada tahun 970 H dan mengatakan hal. semacam itu, lalu bagaimana dengan zaman kita sekarang ?

  1. Madzhab Maliki

Pendapat mayoritas dalam Mazhab Maliki mengatakan bahwa wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Tetapi sebagian ulama Malikiyah berpendapat seluruh tubuh wanita adalah aurat.

Imam Az Zarqani berkata:

وعورةالحرةمعرجلأجنبيمسلمغيرالوجهوالكفينمنجميعجسدها،حتىدلاليهاوقصَّتها. وأماالوجهوالكفانظاهرهماوباطنهما،فلهرؤيتهمامكشوفينولوشابةبلاعذرمنشهادةأوطب،إلالخوففتنةأوقصدلذةفيحرم،كنظرلأمرد،كماللفاكهانيوالقلشاني

“Aurat wanita di depan lelaki muslim yang bukan mahram-nya adalah seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan. Bahkan suara indahnya juga aurat. Sedangkan wajah, telapak tangan luar dan dalam, boleh dinampakkan dan dilihat oleh laki-laki walaupun wanita tersebut masih muda baik sekedar melihat ataupun untuk tujuan pengobatan. Kecuali jika khawatir timbul fitnah atau lelaki melihat wanita untuk berlezat-lezat, maka hukumnya haram, sebagaimana haramnya melihat amraad. Hal ini juga diungkapkan oleh Al Faakihaani dan Al Qalsyaani” (SyarhMukhtashar Khalil hal. 176)

Imam Ibnul Arabi berkata:

والمرأةكلهاعورة،بدنها،وصوتها،فلايجوزكشفذلكإلالضرورة،أولحاجة،كالشهادةعليها،أوداءيكونببدنها،أوسؤالهاعمايَعنُّويعرضعندها

“Wanita itu seluruh bagiannya adalah aurat. Baik badannya maupun suaranya. Tidak boleh menampakkan wajahnya kecuali darurat atau ada kebutuhan mendesak seperti persaksian atau pengobatan pada badannya, atau kita dipertanyakan apakah ia adalah orang yang dimaksud (dalam sebuah persoalan)” (AhkaamulQur’an, 3/1579)

Imam Al Qurthubi berkata:

قالابنخُويزمندادــوهومنكبارعلماءالمالكيةـ : إنالمرأةاذاكانتجميلةوخيفمنوجههاوكفيهاالفتنة،فعليهاسترذلك؛وإنكانتعجوزًاأومقبحةجازأنتكشفوجههاوكفيها

“Ibnu Juwaiz Mandad -beliau adalah ulama besar dalam Madzhab Maliki- berkata: Jika seorang wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya menimbulkan fitnah, maka ia wajib menutup wajahnya. Jika ia wanita tua atau wajahnya tidak berparas cantik, boleh baginya menampakkan wajahnya” (Tafsir Al Qurthubi, 12/229)

Imam Al Hathab berkata:

واعلمأنهإنخُشيمنالمرأةالفتنةيجبعليهاسترالوجهوالكفين . قالهالقاضيعبدالوهاب،ونقلهعنهالشيخأحمدزرّوقفيشرحالرسالة،وهوظاهرالتوضيح

“Ketahuilah, jika dikhawatirkan terjadi fitnah maka wanita wajib menutup wajah dan telapak tangannya. Ini dikatakan oleh Al Qadhi Abdul Wahhab, juga dinukil oleh Syaikh Ahmad Zarruq dalam SyarhurRisaalah. Dan inilah pendapat yang lebih tepat” (Mawahib Jaliil hal. 499)

  1. MadzhabSyafi’i

Pendapat madzhabSyafi’i berpandangan bahwa aurat wanita di depan lelaki bukan mahram adalah seluruh tubuh. Sehingga wajib bagi wanita memakai cadar di hadapan lelaki bukan mahramnya. Inilah pendapat mu’tamad (terkuat) madzhabSyafi’i.

Imam Asy Syarwani berkata:

إنلهاثلاثعورات : عورةفيالصلاة،وهوماتقدمـأيكلبدنهاماسوىالوجهوالكفين . وعورةبالنسبةلنظرالأجانبإليها : جميعبدنهاحتىالوجهوالكفينعلىالمعتمدوعورةفيالخلوةوعندالمحارم : كعورةالرجل »اهــأيمابينالسرةوالركبةـ

“Wanita memiliki tiga macam aurat, (1) aurat wanita dalam shalat -sebagaimana telah dijelaskan- yaitu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, (2) aurat wanita terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad, (3) aurat ketika berdua bersama yang mahram, maka auratnya sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar dan paha” (Hasyiyah Asy Syarwani ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 2/112)

Syaikh Sulaiman Al Jamal berkata:

غيروجهوكفين : وهذهعورتهافيالصلاة . وأماعورتهاعندالنساءالمسلماتمطلقًاوعندالرجالالمحارم،فمابينالسرةوالركبة . وأماعندالرجالالأجانبفجميعالبدن

“Maksud perkataan An Nawawi ‘aurat wanita adalah selain wajah dan telapak tangan’, ini adalah aurat di dalam shalat. Adapun aurat wanita muslimah secara mutlak di hadapan lelaki yang masih mahram adalah antara pusar hingga paha. Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram adalah seluruh badan” (Hasyiatul Jamal ‘Ala Syarh Al Minhaj, 411)

Syaikh Muhammad bin Qasim Al Ghazzi, penulis Fathul Qarib, berkata:

وجميعبدنالمرأةالحرةعورةإلاوجههاوكفيها،وهذهعورتهافيالصلاة،أماخارجالصلاةفعورتهاجميعبدنها

“Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan” (Fathul Qaarib hal. 19)

Ibnu Qaasim Al Abadi berkata:

فيجبماسترمنالأنثىولورقيقةماعداالوجهوالكفين . ووجوبسترهمافيالحياةليسلكونهماعورة،بللخوفالفتنةغالبًا

“Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah” (Hasyiyah Ibnu Qasim ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 3/115)

Imam Taqiyuddin Al Hushni, penulis Kifayatul Akhyar, berkata:

ويُكرهأنيصليفيثوبفيهصورةوتمثيل،والمرأةمتنقّبةإلاأنتكونفيمسجدوهناكأجانبلايحترزونعنالنظر،فإنخيفمنالنظرإليهامايجرإلىالفسادحرمعليهارفعالنقاب

“Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat. Kecuali jika di masjid kondisinya sulit terjaga dari pandangan lelaki ajnabi. Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab (cadar)” (KifaayatulAkhyaar, 181)

  1. Madzhab Hambali

Imam Ahmad bin Hambal berkata:

كلشيءمنهاــأيمنالمرأةالحرةــعورةحتىالظفر

“Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, termasuk pula kukunya” (Dinukil dalam ZaadulMasiir, 6/31)

Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz Al ‘Anqaari, penulis RaudhulMurbi’, berkata:

« وكلالحرةالبالغةعورةحتىذوائبها،صرحبهفيالرعاية . اهـإلاوجههافليسعورةفيالصلاة . وأماخارجهافكلهاعورةحتىوجههابالنسبةإلىالرجلوالخنثىوبالنسبةإلىمثلهاعورتهامابينالسرةإلىالركبة

“Setiap bagian tubuh wanita yang baligh adalah aurat, termasuk pula sudut kepalanya. Pendapat ini telah dijelaskan dalam kitab Ar Ri’ayah… kecuali wajah, karena wajah bukanlah aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, semua bagian tubuh adalah aurat, termasuk pula wajahnya jika di hadapan lelaki atau di hadapan banci. Jika di hadapan sesama wanita, auratnya antara pusar hingga paha” (RaudhulMurbi’, 140)

Imam Ibnu Muflih berkata:

« قالأحمد : ولاتبديزينتهاإلالمنفيالآيةونقلأبوطالب :ظفرهاعورة،فإذاخرجتفلاتبينشيئًا،ولاخُفَّها،فإنهيصفالقدم،وأحبُّإليَّأنتجعللكـمّهازرًاعنديدها

“Imam Ahmad berkata: ‘Maksud ayat tersebut adalah, janganlah mereka (wanita) menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada orang yang disebutkan di dalam ayat‘. Abu Thalib menukil penjelasan dari beliau (Imam Ahmad): ‘Kuku wanita termasuk aurat. Jika mereka keluar, tidak boleh menampakkan apapun bahkan khuf (semacam kaus kaki), karena khuf itu masih menampakkan lekuk kaki. Dan aku lebih suka jika mereka membuat semacam kancing tekan di bagian tangan’” (Al Furu’, 601-602)

SyaikhManshur bin Yunus bin Idris Al Bahuti, ketika menjelaskan matan Al Iqna’ , ia berkata:

«وهما » أي : الكفان . « والوجه » منالحرةالبالغة « عورةخارجها » أيالصلاة « باعتبارالنظركبقيةبدنها »

“Keduanya, yaitu dua telapak tangan dan wajah adalah aurat di luar shalat karena adanya pandangan, sama seperti anggota badan lainnya” (Kasyful Qanaa’, 309)

Dari pemaparan di atas, jelaslah bahwa memakai cadar (dan juga jilbab) bukanlah sekedar budaya timur-tengah, namun budaya Islam dan ajaran Islam yang sudah diajarkan oleh para ulama Islam sebagai pewaris para Nabi yang memberikan pengajaran kepada seluruh umat Islam, bukan kepada masyarakat timur-tengah saja. Jika memang budaya Islam ini sudah dianggap sebagai budaya lokal oleh masyarakat timur-tengah, maka tentu ini adalah perkara yang baik. Karena memang demikian sepatutnya, seorang muslim berbudaya Islam.

Singkat kata, para ulama sejak dahulu telah membahas hukum memakai cadar bagi wanita. Sebagian mewajibkan, dan sebagian lagi berpendapat hukumnya sunnah. Tidak ada diantara mereka yang mengatakan bahwa pembahasan ini hanya berlaku bagi wanita muslimah arab atau timur-tengah saja. Sehingga tidak benar bahwa memakai cadar itu aneh, ekstrim, berlebihan dalam beragama, atau ikut-ikutan budaya negeri arab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here