Salaman setelah Sholat tak Pernah Dilakukan Oleh  Sahabat Nabi !!! Yakin ?

Oleh : Buya Soni

Inilah doktrin kental yang selalu digembar gemborkan oleh orang yang ingin menjauhkan kita dari sunnah Nabi Muhammad.

Perkara sunnah yang seharusnya kita kejar dan rutin kita amalkan justru semakin dijauhkan dengan dalih “tak pernah dilakukan Nabi”

Yuk,buka pikiran, bersihkan hati, pahami❕

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

“Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.” (HR. Bukhari no. 805 dan Muslim no. 583)

Dalam riwayat lainnya disebutkan,

كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالتَّكْبِيرِ

“Kami dahulu mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara takbir.” (HR. Bukhari no. 806 dan Muslim no. 583)

Berdasarkan hadits di atas, sebagian ulama berpendapat, “Dianjurkan mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat.”

Di antara yang berpendapat seperti ini adalah ;

Ibnu Hazm. Beliau berkata,

ورفع الصوت بالتكبير إثر كل صلاة حسن

“Mengeraskan suara dengan bertakbir pada dzikir sesudah shalat adalah suatu amalan yang baik.” (Al Muhalla, 4: 260)

Demikian juga pendapat Ath Thobari, beliau berkata,

فيه الإبانه عن صحة ما كان يفعله الأمراء من التكبير عقب الصلاة

“Hadits ini sebagai isyarat benarnya perbuatan para imam yang bertakbir setelah shalat.” (Rujuk Fathul Bari, 2: 325)

  1. Bersalaman merupakan anjuran yang sangat ditekankan oleh Nabi Muhammad

Beliau saw bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أنْ يَتَفَرَّقَا

“Tidaklah ada dua orang muslim yang saling bertemu kemudian mereka bersalaman kecuali dosa-dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum mereka berpisah.” (H.R. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibmu Majah)

setelah membaca hadits diatas, biasanya “si dia” mulai mengeluarkan jurusnya, “itu kan dalil bersalaman secara umum, mana hadits yang menerangkan bersalaman setelah sholat?”

Tenang, ojo kesusu , jangan terburu-buru, ini baru nomor 1.

  1. Yang diatur secara khusus oleh Nabi Muhammad saw adalah sholat.

Sebagaimana sabda beliau,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Sholatlah sebagaiman kalian melihatku sholat.” (HR. Bukhori)

Sholat itu dimulai dari Takbirotul Ihrom sampai Salam.

Artinya, perbuatan sebelum takbirotul ihrom dan setelah salam tidak ada ketentuan khusus dari Nabi Muhammad saw.

Kalau bersalaman setelah sholat itu dilarang, bagaimana jika setelah sholat langsung bangkit dan pergi ?

ADAKAH HADITS YANG MENERANGKAN BAHWA SAHABAT LANGSUNG PERGI SETELAH SHOLAT

JIKA TAK ADA HADITSNYA, APAKAH BOLEH BAGI KITA UNTUK LANGSUNG PERGI SETELAH SHOLAT

hehe, pake capslock, biar jelas…

bisa dipahami kan ya ? Jadi, sebenarnya setelah sholat, mau ngapain aja mah bebas.

Mengenai bersalaman setelah sholat, lihat pendapat Imam Nawawi dibawah ini (for your information, Imam Nawawi merupakan penulis syarh Hadits Shohih Muslim, Penulis Hadits Arbain, Penulis Kitab Roudhotut Tholibin, dsb)

فإن أصل المصافحة سنة، وكونهم حافظوا عليها في بعض الأحوال، وفرطوا فيها في كثير من الأحوال أو أكثرها، لا يخرج ذلك البعض عن كونه من المصافحة التي ورد الشرع بأصلها

Pada dasarnya bersalaman adalah sunah, dan keadaan mereka menjaga hal itu pada sebagian keadaan dan mereka berlebihan di dalamnya pada banyak keadaan lain atau lebih dari itu, pada dasarnya tidaklah keluar dari kebolehan bersalaman yang ada dalam syariat.” (Al Adzkar hal. 184, Roudhotuth Tholibin juz 7 hal. 438)

Lebih lanjut…

وَالْمُخْتَارُ أَنْ يُقَالَ: إنْ صَافَحَ مَنْ كَانَ مَعَهُ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَمُبَاحَةٌ كَمَا ذَكَرْنَا، وَإِنْ صَافَحَ مَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ قَبْلَهَا فَمُسْتَحَبَّةٌ؛ لِأَنَّ الْمُصَافَحَةَ عِنْدَ اللِّقَاءِ سُنَّةٌ بِالْإِجْمَاعِ لِلْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ فِي ذَلِكَ

Pandangan yang dipilih adalah apabila seseorang yang bersalaman (setelah shalat) dengan orang yang bersamanya sejak sebelum shalat maka itu boleh sebagaimana yang telah kami sebutkan, dan jika dia bersalaman dengan orang yang sebelumnya belum bersamanya maka itu sunah, karena bersalaman ketika berjumpa adalah sunah menurut ijma’, sesuai hadits-hadits shahih tentang itu.” (Al-Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab juz 3 hal 325)

Jadi, bersalaman setelah sholat dengan orang yang tadi sudah kita salami, hukumnya mubah.

Tapi jika bersalaman dengan orang yang baru kita jumpai, maka hukumnya sunnah seperti Hadits diatas.

  1. Sampai disini, “si dia” mengatakan, “tuh, benar kan bahwa salaman setelah sholat tidak dilakukan oleh Sahabat”

Hadits dari Sahabat Yazid bin Aswad ra.

عَنْ سَيِّدِنَا يَزِيْد بِنْ اَسْوَدْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: اَنَّهُ صَلَّى الصُّبْحَ مَعَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَليْهِ وَسَلّمْ. وَقالَ: ثُمَّ ثَارَ النَّاسُ يَأخُذوْنَ بِيَدِهِ يَمْسَحُوْنَ بِهَا وُجُوْهَهُمْ, فَأَخَذتُ بِيَدِهِ فَمَسَحْتُ بِهَا وَجْهِيْ

Diriwayatkan dari sahabat Yazid bin Aswad bahwa ia shalat subuh bersama Rasulallah, lalu setelah shalat para jamaah berebut untuk menyalami Nabi, lalu mereka mengusapkan ke wajahnya masing-masing, dan begitu juga saya menyalami tangan Nabi lalu saya usapkan ke wajah saya. (H.R. Bukhari)

melanjutkan hadits diatas, Sahabat Qatadah ra. mengatakan,

قلت لأنس: أكانت المصافحة في أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم؟ قال: نعم

Aku berkata kepada Anas: apakah bersalaman di lakukan para sahabat Nabi saw ? Dia menjawab: “Ya.” (HR. Bukhari)

Jadi, mari kita amalkan sunnah Nabi untuk bersalaman setelah Sholat.

Yang paling bagus, setelah sholat, dzikir dulu, doa bareng, lanjut salam-salaman.

Walloohu a’lam bis showaab.

Salam salamsalaman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here