‘Mereka’ bilang kita syirik karena pakai dupa

Oleh:Gus Ahmad Rifai

Untuk kawan- kawan yang gemar menghadiri majlis-majlis pengajian Ahlussunnah wal Jama’ah, biasanya diawali dengan pembacaan maulid, sholawat, manaqib, khataman quran, dll. yang tak jarang dibagian depan terdapat pengharum dengan cara membakar kayu gahru atau bukhur (sejenis bubuk pewangi).

Melihat hal yang demikian, ada beberapa orang yang serampangan menuduh syirik hanya gara- gara pengharum yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebut ‘dupa’

(dupa/du·pa/ n luban (kemenyan, setanggi, dan sebagainya) yang apabila dibakar asapnya berbau harum)

Bagaimana kita menyikapinya ❓

  1. Pengharum, bukan tanda kesyirikan

Sebenarnya, pengharum dengan cara dibakar tersebut, tidak terikat secara khusus dengan majlis sholawat, akan tetapi secara umum dianjurkan untuk mempergunakan wangi-wangian dalam kegiatan sehari-hari baik wangi2an berupa minyak atau bakar2an, terlebih dalam kegiatan agama dianjurkan untuk mewangikan pakaian, tubuh, dan tempat, maka mengherankan kalau ada beberapa pihak yang berusaha menghubung-hubungkan dengan syirik.

Mana dalilnya ? Tenang, hehehe.. simak sampak akhir.

  1. Hadits Mengenai Penggunaan Dupa

Dupa dizaman Nabi dan Salafush Shaleh juga menjadi bagian dari beberapa kegiatan keagamaan umat Islam. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat sendiri sangat menyukai wangi-wangian, baik yang berasal dari minyak wangi hingga dupa, sebagaimana disebutkan didalam berbagai hadits.

  • Hadits dari Nafi’

 عَنْ نَافِعٍ، قَالَ: كَانَ ابْنُ عُمَرَ «إِذَا اسْتَجْمَرَ اسْتَجْمَرَ بِالْأَلُوَّةِ، غَيْرَ مُطَرَّاةٍ وَبِكَافُورٍ، يَطْرَحُهُ مَعَ الْأَلُوَّةِ» ثُمَّ قَالَ: «هَكَذَا كَانَ يَسْتَجْمِرُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dari Nafi’, ia berkata, “Apabila Ibnu Umar mengukup mayat (membakar kemenyan), maka beliau mengukupnya dengan kayu gaharu yang tidak dihaluskan, dan dengan kapur barus yang dicampurkan dengan kapur barus. Kemudian beliau berkata, “Beginilah cara Rasûlullâh saw ketika mengukup jenazah (membakar dupa untuk mayit)”. (HR. Muslim)

  • Hadits dari Abu Hurairah ra.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” أَوَّلُ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ، … الى قوله … وَوَقُودُ مَجَامِرِهِمْ الأَلُوَّةُ – قَالَ أَبُو اليَمَانِ: يَعْنِي العُودَ -، وَرَشْحُهُمُ المِسْكُ

Dari Abi Hurairah ra., bahwa Rasulûllâh saw. bersabda : “Golongan penghuni surga yang pertama kali masuk surga adalah berbentuk rupa bulan pada malam bulan purnama, … (sampai ucapan beliau) …, nyala perdupaan mereka adalah gahru, Imam Abul Yaman berkata, maksudnya adalah kayu gahru” (HR. Bukhari)

  • Hadits dari Jâbir ra.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا جَمَّرْتُمُ الْمَيِّتَ فأوتروا

“Dari Jâbir, ia berkata : Râsulullâh saw. bersabda : “Apabila kalian mengukup mayyit, maka kukuplah (beri uap dupa) dengan bilangan ganti (ganjilkanlah)” (HR. Ibnu Hibban)

  1. Riwayat bahwa Siti Asma’ berwasiat untuk diberi uap dupa pada kain kafannya.

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ أَنَّهَا قَالَتْ لِأَهْلِهَا: «أَجْمِرُوا ثِيَابِي إِذَا مِتُّ، ثُمَّ حَنِّطُونِي،

Dari Asma` binti Abu Bakar bahwa dia berkata kepada keluarganya, “Berilah uap kayu gaharu (ukuplah) pakaianku jika aku meninggal. Taburkanlah hanuth (pewangi mayat) pada tubuhku.” (Al-Muwaththo’ Imam Malik, As-Sunan Al-Kubro Imam Al-Baihaqi.

  1. Memberikan wewangian dupa pada masjid.

جَنِّبُوا مَسَاجِدَكُمْ صِبْيَانَكُمْ، وَخُصُومَاتِكُمْ وَحُدُودَكُمْ وَشِرَاءَكُمْ وَبَيْعَكُمْ وَجَمِّرُوهَا يَوْمَ جَمْعِكُمْ، وَاجْعَلُوا عَلَى أَبْوَابِهَا مَطَاهِرَكُمْ

“Jauhkanlah masjid-masjid kalian dari anak-anak kecil kalian, dari pertikaian diantara kalian, pendarahan kalian dan jual beli kamu. Ukuplah (berilah wewangian dupa) masjid-masjid itu pada hari perhimpunan kamu dan jadikanlah pada pintu-pintunya itu alat-alat bersuci kalian. (HR. Imam Al-Thabrani didalam Al-Mu’jram al-Kabir. Ibnu Majah, Abdurrazaq dan Al-Baihaqi juga meriwayatkan dengan redaksi yang hampar sama)

  • Memberikan wewangian dupa di Masjid Nabawi

نعيم بن عبد الله المجمر المدني الفقيه ، مولى آل عمر بن الخطاب ، كان يبخر مسجد النبي صلى الله عليه وسلم .

“Nu’aim Bin Abdillah Al-Mujammar, ahli Madinah, seorang faqih, beliau adalah Maula (bekas budak) keluarga Umar Bin Khattab. Ia membakar dupa untuk membuat harum Masjid Nabi saw.” (Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (5 /22 ) tentang biografi Nu’aim Bin Abdillah Al-Mujammar)

Ternyata menggunakan dupa untuk wewangian telah dilaksanakan sejak zaman Nabi saw dan masih terus berlangsung dizaman para Ulama’ salafunas sholih

  1. Coba kita lihat juga komentar Ibnul Qoyyim Al Jauziyah tentang dupa

العود الهندي نوعان، أحدهما: يستعمل في الأدوية وهو الكست، ويقال له: القسط وسيأتي في حرف القاف. الثاني: يستعمل في الطيب، ويقال له: الألوة. وقد روى مسلم في ” صحيحه “: عن ابن عمر رضي الله عنهما، أنه ( «كان يستجمر بالألوة غير مطراة، وبكافور يطرح معها، ويقول: هكذا كان يستجمر رسول الله صلى الله عليه وسلم،» ) وثبت عنه في صفة نعيم أهل الجنة ( «مجامرهم الألوة» )

”Kayu gahru india itu ada dua macam. Pertama adalah kayu gahru yang digunakan untuk pengobatan, yang dinamakan kayu al-Kust. Ada juga yang menyebutnya dengan al-Qusth, menggunakan huruf “Qaf”. Kedua adalah yang digunakan sebagai pengharum, yang disebut Uluwwah. Dan sungguh Imam Muslim telah meriwayatkan didalam kitab shohihnya dari Ibnu Umar ra., bahwa beliau (Ibnu Umar) mengukup (memberi wewangian) mayyit dengan kayu gahru yang tidak dihaluskan, dan dengan kapur barus yang dicampur dengan kayu gahru. Kemudian beliau berkata, “Beginilah cara Rasûlullâh saw. mengukup mayyit. Dan terbukti sebuah hadits lain riwayat Imam Muslim perihal mensifati keni’matan penghuni surga, yaitu “wewangian ahli surga itu menggunakan kayu gahru”. (Ibnul Qoyyim Al Jauziyah dalam Zâdul Ma’ad 4/315)

Kita masuk ke kesimpulan, jadi menggunakan wewangian pada dasarnya adalah sunnah Nabi Muhammad saw. dimanapun kita berada, terlebih jika kita melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan. Wewangian ada berbagai macam, diantaranya berupa minyak wangi dan dupa dengan cara di bakar. Keduanya dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw., para Sahabat ra., dan para Ulama’ rhm.

Masak hanya gara2 menggunakan dupa untuk wewangian, dirimu men-syirik-kan diriku ? Oh, malangnya diriku.

Hehehe, salam Malang ! eh, salam Solo ! ❣

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here