Mengaminkan doa BID’AH ! BENARKAH ?

Oleh Gus Ahmad Rifai

Jawaban :

Ah, jangan gampang2 bilang

“Ini gak ada dalilnya !”

“Itu gak ada dalilnya !”

Kalau ternyata ada dalilnya kan situ jadi malu… hehe,

INI DIA DALILNYA

ada beberapa kesunnahan didalam doa :

  1. Membuka tangan

عن مَالِكِ بْنَ يَسَارٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا سَأَلْتُمْ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَلا تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا

Dari Malik bin Yasar ra., bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda : Jika engkau meminta (berdoa) kepada Allah, maka mintalah (berdoalah) dengan menggunakan bagian dalam dari kedua telapak tangan kalian, dan jangan engkau meminta kepada-Nya dengan menggunakan bagian luar dari telapak tangan kalian. (HR. Abu Dawud no. 1271)

Jadi justru kalau ada orang berdoa, tidak mengangkat tangan itu bid’ah saudara-saudara, karena tidak menaati perintah Nabi.

  1. Mengangkat tangan

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

“Sesunguhnya Rabb kalian tabaroka 1wa ta’ala Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya, jika hamba tersebut mengangkat tangan kepada-Nya (untuk berdoa), lalu kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa.” (HR. Abu Daud no. 1488 dan At Tirmidzi no. 3556)

bahkan Nabi saw pun mencontohkannya

عَنْ عُمَرِ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ، كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا رَفَعَ يَدَهُ فِى الدُّعَاءِ، لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ

Dari ‘Umar bin Khottob ra. berkata, bahwa ketika Nabi Muhammad saw mengangkat tangan (untuk berdoa), beliau tidak menurunkan telapak tangannya hingga (selesai) lalu mengusap tangannya dengan telapak tangannya. (HR. Tirmidzi no. 3308)

عَنْ أَنَسٍ – رضي الله عنه – أَنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِى الْإِسْتِسْقَاءِ حَتَّى يرَى بَيَاض إِبْطَيْهِ

Dari Anas ra. bahwa Nabi Muhammad saw. tidak mengangkat tangannya terhadap sesuatu (melebihi mengangkat tangan ketika) Beliau memohon turun hujan, bahkan hingga tampak kulit putih dari ketiak beliau. (HR. Bukhari no.1031, Muslim no. 1491)

  1. Mengaminkan doa

Quran Surat Yunus : 88

وَقَالَ مُوسَىٰ رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالًا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ ۖ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَىٰ أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّىٰ يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ

Nabi Musa berkata (berdoa): “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami — akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih”.

Quran Surat Yunus : 89

قَالَ قَدْ أُجِيبَت دَّعْوَتُكُمَا

(Allah) berfirman : Benar-benar telah dikabulkan doa kalian berdua.

Dalam ayat tersebut, Allah SWT menunjukkan bahwa doa dari Nabi Musa dan Nabi Harun telah dikabulkan. Padahal ketika itu yang berdoa hanyalah Nabi Musa.

Bagaimana penjelasannya?

Imam Abu Ja’far Ath Thobari dalam Tafsir Thobari juz 7 hal 185 mengatakan :

إن الداعي وإن كان واحدًا ، فإن الثاني كان مؤمِّنًا، وهو هارون، فلذلك نسبت الإجابة إليهما، لأن المؤمِّن داعٍ

Sesungguhnya yang berdoa adalah satu orang (yaitu Nabi Musa), sedangkan orang yang kedua mengaminkan, yaitu Nabi Harun. Oleh karena itu doa tersebut dinisbatkan kepada mereka berdua karena orang yang mengaminkan doa itu sama seperti orang yang berdoa.

كان موسى يدعوا وهارون يؤمن

Sesungguhnya Nabi Musa berdoa dan Nabi Harun meng-amin-kan

Hadits dari Habib bin Maslamah ra.

عَنْ حَبِيْب بِنْ مَسْلَمَة سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : لَا يَجْتَمِعُ مَلَأٌ فيدعو بعضهم، ويؤمن سائرهم، إلا أجابهم الله

Dari Habib bin Maslamah, saya mendengar Nabi Muhammad saw. bersabda : Tidak mungkin sekelompok orang berkumpul, kemudian salah seorang diantara mereka memimpin doa sedangkan yang lainnya mengaminkan doa tersebut, terkecuali pasti akan dikabulkan oleh Allah swt. (HR. al Hakim)

  1. Menyatukan tangan

(menempelkan kedua telapak tangan, bukan memisah telapak tangan)

كَانَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسلم إِذا دَعَا ضم كفيه وَجعل بطونهما مِمَّا يَلِي وَجهه

“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketik a berdoa beliau menempelkan kedua telapak tangannya dan melihat pada kedua telapak tangannya” (HR. Ath Thabrani 5226)

Hal serupa juga ditulis oleh Imam Ghozali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin, mengutip pendapat Imam Qulyubi.

Dalam Majmu’ Kalam lil Habib ‘Aydrus bin ‘Umar al Habsyi hal 437

و كان بعض السلف الصالح رضي الله عنه ينهى من رآه مفرقا بين كفيه عند رفعهما للدعاء و يأمر بجمعهما و إلصاق كل منهما بالآخر كأنه يتناول شيئا يخاف عليه أن يسقط من بين كفيه و ينزل العطاء الإلهي المعنوي ،

Sebagian para salaf sholeh melarang orang yang mengangkat kedua tangannya tatkala berdoa dengan memisahkan antara kedua telapak tangannya, mereka menganjurkan untuk menempelkannya satu dengan yang lain seakan-akan mengalir guyuran (rahmat dan pemberian) kepadanya dan ia takut guyuran tersebut jatuh dari kedua telapak tangannya.

Hloh saya kok gak pernah lihat guyurannya ?

huehehe jangan begitu,

Agama Islam itu adalah agama yang menghargai simbol atas hal-hal tertentu, untuk simbolis dan tidak dimaknai secara létêrlêk

Contoh ;

▪kita sholat menyembah Allah, kita sholat menghadap kakbah, bukan berarti Allah ada di Kakbah.

▪kita berdoa dan meminta kepada Allah, kita berdoa menengadahkan tangan ke langit, bukan berarti Allah ada di Langit.

Imam Nawawi dalam Syarh Shohih Muslim berkata :

قَالَ الْإِمَامُ مُـحْيِ الدِّيْنِ النَّوَوِيُّ فِيْ كِتَابِهِ شَرْحِ صَحِيْحِ مُسْلِمٍ: “تُقِرُّ بِأَنَّ الْخَالِقَ الْمُدَبِّرَ، الْفَعَّالَ هُوَ اللهُ وَحْدَهُ، وَهُوَ الَّذِيْ إِذَا دَعَاهُ الدَّاعِيْ اِسْتَقْبَلَ السَّمَاءَ، كَمَا إِذَا صَلَّى الْمُصَلِّيْ اِسْتَقْبَلَ الْكَعْبَةَ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لأَنَّهُ مُنْحَصِرٌ فِي السَّمَاءِ كَمَا أَنَّهُ لَيْسَ مُنْحَصِرًا فِيْ جِهَةِ الْكَعْبَةِ، بَلْ ذَلِكَ لِأن السَّمَاءَ قِبْلَةُ الدَّاعِيْنَ، كَمَا أَن الكعبةَ قِبْلَةُ الْمُصَلِّيْنَ”.

Telah berkata al-Imam Muhyiddin an-Nawawi di dalam kitabnya Syarh Sahih Muslim: Kamu menetapkan sesungguhnya Dialah yang mencipta, yang mentadbir, yang berkuasa melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya dan Dialah [Allah] yang apabila seseorang berdoa kepada-Nya, dia menghadap ke langit [menengadahkan tangan ke langit] sebagaimana orang yang bersembahyang menghadap ke Ka`bah, dan ini bukanlah bermakna Allah meliputi [berada] di langit sepertimana Allah tidak meliputi [berada di] Ka`bah, sebaliknya langit merupakan kiblat bagi orang-orang yang berdoa, begitu juga ka`bah menjadi kiblat bagi orang-orang yang bersembahyang” .

al-Imam al-Hafiz Ibn Hajar al-`Asqalani al-Syafi`e al-Asy`ari rahimahullah (W. 852 H) dalam Fath al-Bari:

قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ الْعَسْقَلَانِيُّ فِيْ كِتَابِهِ فَتْحِ الْبَارِيِّ: “اَلسَّمَاءُ قِبْلَةُ الدُّعَاءِ كَمَا أَنَّ الْكَعْبَةَ قِبْلَةُ الصَّلَاةِ”.

“Langit merupakan kiblatnya doa sebagaimana ka`bah merupakan kiblatnya sholat“

  1. Mengusap wajah setelah berdoa

Hadits dari Ibnu ‘Abbas ra.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ فَادْعُ بِبَاطِنِ كَفَّيْكَ ، وَلَا تَدْعُ بِظُهُورِهِمَا ، فَإِذَا فَرَغْتَ ، فَامْسَحْ بِهِمَا وَجْهَكَ

Dari Ibnu ‘Abbas ra. berkata, Nabi Muhammad saw. bersabda : Jika engkau berdoa kepada Allah, maka berdoalah dengan menggunakan bagian dalam dari kedua telapak tangan kalian, dan jangan engkau berdoa dengan menggunakan bagian luar dari telapak tangan kalian. Dan apabila kamu telah selesai berdoa, maka usapkanlah telapak tanganmu tersebut kepada wajahmu. (HR. Ibnu Majah no. 1171)

Hadits dari ‘Umar bin Khottob ra.

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : ” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ “

Dari ‘Umar bin Al Khathab radhiallahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila mengangkat kedua tangannya saat berdo’a, beliau tidak menurunkannya hingga beliau mengusap wajahnya terlebih dahulu dengan kedua telapak tangannya” (HR. Tirmidzi no. 3366)

Hadits dari Ayah Sa’ib bin Yazid

عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ ، عَنْ أَبِيهِ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” كَانَ إِذَا دَعَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ مَسَحَ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ “

dari Sa’ib bin Yazid dari ayahnya bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika berdoa beliau mengangkat kedua tangannya untuk mengusap wajahnya dengan keduanya. (HR. Ahmad no. 17943, Abu Daud no. 1492)

  1. Menyertai dengan pujian kepada Allah

Bisa kita buka di Surat Al Fatihah, disitu Allah mengajarkan kepada kita cara berdoa, di ayat 1 s.d. 5 berisi pujian kepada Allah, baru di ayat 6 dan 7 berisi doa.

كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍلاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِالْحَمْدِ فَهُوَأَقْطَعُ

“Segala urusan penting yang tidak dimulai di dalamnya dengan alhamdulillah, maka urusan itu akan terputus“. (HR. Ibnu Majah no. 1894)

Kyai-Kyai kita umumnya mengajarkan permulaan doa dengan ungkapan :

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ, حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَ يُكَافِى مَزِيْدَهُ, يَا رَبَّنَا َلَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَ عَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

Pujian inilah yang dikatakan oleh Al Imam Abdullah bin Alwi Al Haddad sebagai pujian yang sempurna kepada Allah swt.

  1. Menyertai dengan sholawat kepada Nabi saw.

سَمِعَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً يَدْعُو فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « عَجِلَ هَذَا ». ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ « إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ لِيُصَلِّ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ لِيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ ».

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang memanjatkan doa dalam shalatnya, lalu ia tidak memanjatkan shalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun berkata, “Orang ini terlalu tergesa-gesa dalam doanya.” Kemudian beliau memanggilnya lalu menegurnya atau mengatakan pada lainnya, “Jika salah seorang di antara kalian berdoa, maka mulailah dengan memuji Allah, menyanjung-Nya, lalu bershalawat pada Nabi saw, lalu mintalah doa yang diinginkan.” (HR. Tirmidzi no. 3477 dan Abu Daud no. 1481)

إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لاَ يَصْعَدُ مِنْهُ شَىْءٌ حَتَّى تُصَلِّىَ عَلَى نَبِيِّكَ -صلى الله عليه وسلم-

“Sesungguhnya doa itu diam antara langit dan bumi, tidak naik ke atas hingga engkau bershalawat pada Nabimu shallallahu ‘alaihi wa sallam” (HR. Tirmidzi no. 486)

diawali dengan sholawat

أَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

dan diakhiri dengan sholawat

وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

atau

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ, وَ سَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Kesimpulan :

Jaga lisan kita dalam mengomentari sesuatu yang belum kita pahami. Terutama sesuatu yang diajarkan oleh Para Kyai dan Para Guru.

Ada beberapa kawan kita yang mudah sekali menuduh dengan kalimat “TIDAK ADA DALILNYA”.

Ketahuilah “Tidak Ada Dalilnya” itu berbeda dengan “Tidak Tau Dalilnya”.

Salahsatu contohnya adalah masalah mengangkat tangan ketika berdoa, mengaminkan, dan mengusap wajah setelah selesai berdoa, dimana amalan ini telah diamalkan oleh Para Ulama’ dan akhir-akhir dihantam habis-habisan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Wal iyadzu billah. Padahal ternyata amalan ini merupakan sesuatu yang diajarkan langsung oleh Baginda Muhammad saw.

Mari terus belajar

Wallahu a’lam bis showab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here